Kamis , 14 September 2017, 17:03 WIB

Polisi Reka Ulang Percobaan Penculikan terhadap Siswi SD di Tanjung Duren

Rep: Ali Yusuf/ Red: Ratna Puspita
ROL/Fakhtar K Lubis
(Ilustrasi) Pelajar sekolah negeri di Jakarta mulai beraktivitas.
(Ilustrasi) Pelajar sekolah negeri di Jakarta mulai beraktivitas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Polres Metro Jakarta Barat dan Polsek Tanjung Duren melakukan reka ulang kejadian upaya penculikan siswi SDN 01 Pagi Tanjung Duren, Jakarta Barat, Kamis (14/9). Reka ulang dilakukan sebagai awal dari proses penyelidikan untuk mengungkap kasus tersebut.

Karena saksi dan korban masih belia, adegan reka ulang dilakukan oleh petugas polisi. Korban bernama Putri Inka hanya menyampaikan adegan lewat lisan.

Belum selesai adegan reka ulang diperagakan, petugas meminta awak media tidak mengambil gambar proses reka ulang. Alasannya, korban dan saksi masih anak-anak sehingga tidak baik jika menjadi konsumsi publik.

"Maaf, Iyah, teman-teman. Ini menyangkut anak-anak," kata Kapolsek Tanjung Duren Komisaris Lambe Patang Birana kepada wartawan, Kamis (14/9).

Lambe menuturkan psikologi anak-anak dapat menurun kalau meliha ada wartawan meliput kegiatan reka ulang tersebut. "Hasilnya nanti minta di Polsek Tanjung Duren," katanya.

Reka ulang dilakukan merupakan tindak lanjut kepolisian setelah melihat video cerita siswi SD Tanjung Duren bernama Putri Inka Safira yang hendak diculik oleh sekelompok orang tak dikenal. Video ini menjadi viral di media sosial berbasis percakapan seperti WhatsApp.

Dalam video tersebut, Putri Inka Safira mengaku sedang jajan di depan sekolah, ketika seorang pria mencoba membekap mulutnya. “Kemarin aku lagi jajan di depan, pas aku pulang, ehlangsung aku dibekap, tangannya digigit (oleh Fira, red), trus aku langsung lari. Kejadiannya jam 1-an,” kata Fira menjelaskan dalam video itu.

Menurut Fira yang diamini dua temannya, mobil yang membawa laki-laki yang hendak membekapnya juga mengangkut dua anak kecil. Keduanya mengenakan seragam sekolah dan berjenis kelamin laki-laki. “Tangannya diikat dan mulut duaduanya dilakban.

Fira menuturkan, kedua anak dalam mobil itu tampak menangis, namun tidak bisa berteriak. “Loncat-loncat aja di mobil,” kata dia.

Dia juga menerangkan ada satu pria bertubuh besar di dalam mobil sedangkan pria yang hendak membekapnya sudah berusia tua. “Yang bekap kayak kakek-kakek,” kata dia.

Fira dan dua temannya menyebutkan mobil tersebut berwarna hitam. Namun, ketiganya tidak memperhatikan pelat dan jenis mobil.