Ahad , 08 Oktober 2017, 16:23 WIB

Waspada Potensi Hujan Petir dan Angin Kencang di Jabodetabek

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Ratna Puspita
ANTARA/Hendra Nurdiyansyah
[Ilustrasi] Petugas mengukur suhu air di Stasiun Klimatologi, BMKG Yogyakarta, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (3/10).
[Ilustrasi] Petugas mengukur suhu air di Stasiun Klimatologi, BMKG Yogyakarta, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (3/10).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan terjadinya angin hujan disertai petir di wilayah Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi (Jabodetabek), Ahad (8/10). Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) BMKG Indonesia, Hary Djatmiko meminta masyarakat waspada potensi hujan disertai kilat/petir dan angin kencang dengan durasi singkat di Jabodetabek.

"Yaitu Jakarta Selatan (Jaksel), Jakarta Timur (Jaktim), Depok, dan Bogor antara siang hingga menjelang malam hari," katanya saat dihubungi Republika, Ahad (8/10).

Pada siang hari, hujan ringan di Bekasi dan Tangerang, hujan sedang di Jaksel, Jaktim, Depok,dan Bogor. Pada malam hari, BMKG memprediksi cuaca berawan dan dini hari cerah berawan. Suhu udara 23-33 derajat celcius. Kemudian kelembapan udara 65 - 95 persen dan angin utara - Tenggara, 05 - 22 km/jam. 

BMKG juga memprakiraan musim hujan 2017/2018 di Tanah Air yang umumnya mulai Oktober 2017. Harry mengatakan wilayah Indonesia berada pada posisi strategis, yaitu terletak di daerah tropis, diantara Benua Asia dan Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, serta dilalui garis katulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur yang terdapat banyak selat dan teluk. 

Ini menyebabkan wilayah Indonesia rentan terhadap perubahan iklim atau cuaca. Dia menuebutkan prakiraan Musim Hujan 2017/2018 secara umum dapat disimpulkan yaitu awal musim hujan 2017/2018 di 342 Zona Musim (ZOM) diprakirakan umumnya mulai Oktober 2017. 

“Sebanyak 131 ZOM (38,3 persen), November 2017 sebanyak 129 ZOM (37,7 persen), dan Desember 2017 sebanyak 39 ZOM (11,4 persen)," kata dia. 

Beberapa daerah lainnya awal musim hujan terjadi sejak Agustus 2017 sebanyak 12 ZOM (3,5 persen), September 2017 sebanyak 20 ZOM (5,8 persen), Januari 2017 sebanyak satu ZOM (0,3 persen), Maret 2017 sebanyak tujuh ZOM (2 persen), April 2017 sebanyak dua ZOM (0,6 persen), dan Mei 2017 1 ZOM (0,3 persen). 

Jika dibandingkan terhadap rata-ratanya selama 30 tahun (1981- 2010) di 342 Zona Musim maka ia mengatakan awal musim hujan 2017/2018 di sebagian besar daerah. Dia memerinci 134 ZOM (39,2 persen) mundur jika dibandingkan dengan rata-ratanya dan 131 ZOM (38,3 persen) sama terhadap rata-ratanya. 

Yang maju terhadap rata-rata 77 ZOM (22,5 persen). "Sifat Hujan selama Musim Hujan 2017/2018 di sebagian besar daerah yaitu 240 ZOM (70,2 persen) diprakirakan normal dan 74 ZOM (21,6 persen) atas normal," ujarnya.

Bawah Normal yaitu sebanyak 28 ZOM (8,2 persen). Ia menambahkan, fenomena yang mempengaruhi iklim di Indonesia diantaranya el nino dan la nina, dipole mode, sirkulasi monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ) hingga suhu permukaan laut di wilayah Indonesia. 

Berita Terkait