Rabu , 01 November 2017, 05:10 WIB

Bocah Epih Keluhkan Upah Sebelum Tewas dalam Kebakaran

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Bayu Hermawan
Muhammad Iqbal/Antara/Reuters
Kebakaran gudang petasan (ilustrasi)
Kebakaran gudang petasan (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tim Disaster Victim Identification (DVI) RS Polri telah berhasil mengidentifikasi beberapa jenazah korban kebakaran pabrik kembang api PT Panca Cahaya Buana di Kosambi Tangerang. Salah satu yang telah berhasil diidentifikasi adalah Epih, anak berusia 15 tahun, yang menjadi pekerja di pabrik itu.

Menurut Suwandi, paman korban, Epih baru dua minggu bekerja di pabrik kembang api itu. Suwandi mengatakan, orang tua korban sebelumnya juga sama sekali tidak mengetahui jika korban bekerja disana. Orang tua baru mengetahui pascaperistiwa naas yang terjadi pada 26 Oktober lalu.

"Orang tuanya enggak tahu waktu masuk (bekerja). Dia itu putus sekolah, menganggur," ujar Suwandi di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (30/10).

Suwandi melanjutkan, berdasarkan informasi yang didapatnya, Epih bekerja di bagian pengepakan kembang api. Epih bekerja di pabrik tersebut bersama Surnah yang juga menjadi korban meninggal ledakan pabrik tersebut.

Epih hanyalah seorang yang putus sekolah saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Epih kemudian memilih untuk bekerja demi membantu orang tuanya mendapatkan uang.

"Dia putus sekolah, nganggur. Temennya jadi korban juga. Yang namanya Surnah," ujar Suwandi.

Sebelum kejadian naas tersebut terjadi, Epih sempat mengutarakan keinginannya untuk berhenti. Upah yang didapat Epih kecil. Hanya Rp 40.000 perharinya. Upah tersebut diberikan seminggu sekali, di hari Sabtu. Epih bekerja dari pukul 07.00 WIB hingga 17.00 WIB.

Epih merupakan warga Kampung Belimbing, Salembaran, Kosambi, Tangerang. Dirinya akan dimakamkan di pemakaman keluarga yang terletak dekat dengan kediamannya.