Senin , 06 November 2017, 04:10 WIB

Ibu Guru Paud dan Kisah Penggusuran Bukit Duri

Rep: farah noersativa/ Red: Budi Raharjo
Republika/Putra M. Akbar
Warga beraktifitas di samping proyek pembangunan tanggul Sungai Ciliwung di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (22/9).
Warga beraktifitas di samping proyek pembangunan tanggul Sungai Ciliwung di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (22/9).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Penggusuran di Kampung Bukit Duri telah menyisakan kerikil-kerikil perjuangan lainnya. Siang itu, seorang ibu berpakaian kemeja panjang rapi datang ke sebuah rumah milik Ketua RT 03/RW 11 Kampung Bukit Duri.

Ia yang katanya sehabis mengajar di sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (paud) miliknya, memperkenalkan diri dengan ramah. Namanya Iis Istiqomah. Ibu beranak dua ini telah 12 tahun mengajar murid-murid Paud, semasa rumahnya di RT07/RW12 belum tergusur karena proyek normalisasi sungai Ciliwung.

Ibu yang akrab disapa Bu Is ini mengatakan, rumahnya yang berada di bantaran Sungai Ciliwung itu telah diratakan dengan tanah pada September 2016 lalu. “Rumah saya bebarengan dengan Paud, hancur lebur oleh Pemprov (Pemerintah Provinsi),” tuturnya.

Perempuan yang saat ini sedang mengemban sekolah sarjana pendidikan taman kanak-kanak dan Paud di sebuah universitas swasta di Pondok Gede ini mengatakan, Paud yang digusur akhirnya dipindahkan pula ke rumah mertuanya. Rumah mertuanya, merupakan rumah tempatnya ia bernaung sekarang. “Tepatnya di RT 06/RW012,” kata ibu yang juga memiliki sanggar rias itu.

Ia menuturkan, saat sebelum digusur, sekolah Paud dapat menampung anak-anak usia dini sebanyak 50 anak. Setelah digusur dan menumpang di rumah mertua, ia lalu hanya mengajar 22 anak di Paud yang ia namakan Paud Dahlia itu.

Menyusuri jalan betonan hasil gusuran di bantaran Sungai Ciliwung, Republika mendatangi rumah mertua yang ia tumpangi saat ini. Di rumah berlantai dua itu, ia lalu tempatkan Paud Dahlia di lantai teratas. Sementara sanggar riasnya, ia tempatkan di lantai bawah.

Bu Is lalu menuju ke belakang rumahnya, tepatnya ke dapur rumahnya. Ia mengambil beberapa singkong yang ia miliki dari lemari pendinginnya, sembari menyiapkan tepung dan minyak untuk menggoreng. “Saya sambil menggoreng singkong, untuk cemilan rapat warga nanti,” katanya. Lalu penggorengan pun mulai dipanaskan dengan minyak di atasnya.

Selama 12 tahun pula ia mengajar di Paud Dahlia, hal terburuk yang pernah ia lalui adalah penggusuran itu. Ia mengatakan tak ada sekalipun ampun pada warga yang diberikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, akhir September 2016 itu.

“Padahal kami ini membawa misi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” tuturnya. Ia juga mengatakan enggan untuk memindahkan paudnya ke rumah susun (rusun) yang telah disiapkan oleh Pemerintah di Rawa Bebek, Jakarta Timur.

Menurutnya, jiwanya lebih ingin mengajar warga Bukit Duri. Warga yang telah ia kenal semenjak ia lahir. “Saya sudah sejak lahir tinggal di rumah yang digusur itu,” katanya.

Di rusun Rawa Bebek, ia merasakan kesusahan bila harus pindah ke sana. Pasalnya, ia harus membayar sewa rusun sebulan sekali. Sementara semasa ia tinggal di Bukit Duri, ia memiliki hak milik sehingga tak perlu membayar sewa lagi. “Nanti saya jadi tidak memikirkan Paud, karena kesusahan bayar kontrakan,” tuturnya, sambil membolak-balikkan gorengan singkongnya.

Ibu berumur 47 tahun ini juga mengatakan soal pendidikan anaknya sendiri bila nanti harus pindah ke rusun Rawa Bebek. Menurutnya, lingkungan yang tak mendukung karena banyaknya kafe-kafe di sana, membuatnya takut membesarkan anak-anak yang masih remaja.

Ia mengatakan tak mau anak-anaknya bergaul dengan lingkungan yang menurutnya tak sehat itu.  “Saya nggak mau korbanin masa depan anak saya,” ujarnya.

Bersama dua orang guru yang lainnya, ia membangun kembali Paud Dahlia yang telah digusur oleh Pemprov DKI Jakarta. Paud itu pun ia jelaskan, merupakan jerih payah semasa ia hidup dan berkarya.


Perempuan yang juga aktif dalam Posyandu RW 12 Bukit Duri ini mengatakan telah bangun Paud Dahlia semenjak dari nol. “Saya susah payah bangunnya, sekarang main gusur, ya saya gugat,” kata ibu yang juga merupakan salah satu penggugat dari Warga Bukit Duri pada Pemprov.

Ia mengaku sangat bersyukur gugatannya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dimenangkan majelis hakim. “Ini adalah anugerah, Allah masih baik dengan kami,” katanya.

Ia juga menyatakan cita-citanya bila memang nanti ada kampung susun yang akan dibangun tanpa uang sewa. “Rencananya sih ada untuk pindahin Paud Dahlia di sana, anak-anak warga Bukit Duri akan makin banyak yang akan saya ajarin,” katanya.

Tak lama, kakak dari Bu Is, Saidah (50), datang menjemputnya untuk bersama-sama pergi rapat warga Bukit Duri di rumah Ketua RT. Bu Is pun bersiap untuk pergi, dengan membawa singkong yang telah ia goreng tadi.

Mengalami hal yang sama, Saidah juga mengiyakan bahwa ia adalah korban penggusuran normalisasi Sungai Ciliwung. Ia mengatakan, keadaan ekonomi makin sulit pascarumahnya tergusur. “Bayar kontrakan 2x3 (meter) sebulan Rp 400 ribu,” tuturnya.

Bu Is pun menimpali, tak ada yang diuntungkan dalam penggusuran ini. Terlebih ia membawa Paud. “Saya inginnya Pemprov segera ganti rugi, agar saya bisa lanjutkan mengajar di Paud dengan anak-anak Bukit Duri yang lebih banyak lagi,” katanya.

Saidah dan Bu Is, lalu bersama-sama menuju ke rumah Ketua RT, yang berjarak sekitar 30 meter dari rumah mertuanya yang sekaligus Paud itu.