Jumat , 10 November 2017, 15:55 WIB

Tanah Abang Semrawut, Fahira Salahkan Gubernur Terdahulu

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Teguh Firmansyah
Republika/Iman Firmansyah
Pedagang Kaki Lima. Pedagang  nekat  berjaulan menggunakan trotoar di sekitaran Jalan Jati Baru Raya kawasan Statsun Kereta Tanah Abang, Jakarta, Kamis (2/11).
Pedagang Kaki Lima. Pedagang nekat berjaulan menggunakan trotoar di sekitaran Jalan Jati Baru Raya kawasan Statsun Kereta Tanah Abang, Jakarta, Kamis (2/11).

REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta -- Ketua Komite III DPD RI, Fahira Idris mengatakan, masalah keruwetan di Tanah Abang tidak hanya disebabkan oleh Pedagang Kaki Lima (PKL). Oleh karena itu, pemerintah seharusnya tidak fokus menertibkan para PKL saja.

Solusi yang sifatnya parsial, tidak komprehensif, tidak memperhatikan ruang partisipatif dan kolaboratif membuat kawasan Tanah Abang hanya tertib sebentar kemudian semrawut kembali.

"Kalau Tanah Abang kembali semrawut artinya kebijakan gubernur terdahulu ada yang keliru, tidak komprehensif, dan hanya menjadikan penertiban PKL sebagai satu-satunya parameter keberhasilan menata Tanah Abang," kata Fahira di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (10/11).

Menurut Fahira, apabila hanya PKL yang ditertibkan, penataan Tanah Abang tidak akan pernah selesai. Perlu dilakukan pengamatan yang cermat mengenai apa saja yang mempengaruhi semrawutnya wilayah tersebut.

Sebelumnya, pada era pemerintahan Jakarta oleh Joko Widodo, langkah memindahkan PKL ke Blok G menurut Fahira sudah tepat. Namun, masalah mengenai kondisi Blok G yang sepi tidak kunjung diselesaikan.

Sementara itu, di era Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, para PKL hanya digusur. Hal tersebut dirasa Fahira tidak akan menyelesaikan masalah. "Hemat saya, solusi penataan Tanah Abang selain harus //out of the box// juga harus partisipatif dan kolaboratif. Semua yang punya 'saham' membuat Tanah Abang semrawut, harus diajak berembuk dan ditanya solusinya masing-masing. Bukan hanya PKL," ujar Fahira.

Menurut dia, langkah Anies-Sandi yang memetakan masalah keruwetan Tanah Abang sudah tepat. Keruwetan Tanah Abang memang disebabkan oleh beberapa hal yaitu, proyek pembangunan trotoar dan jalan, parkir liar, banyaknya angkutan umum termasuk ojek yang ngetem, PKL yang berjualan, kendaraan yang putar arah, hingga tumpahnya penumpang dari Stasiun Tanah Abang yang tiap hari jumlahnya lebih dari ratusan ribu.

"Ke depan sudah selayaknya kawasan Tanah Abang dijadikan titik pertemuan penumpang yang memakai transportasi publik sehingga saat ingin berganti transportasi, penumpang tidak harus turun ke jalan. Ide membangun jembatan penghubung (skybridge) antara stasiun dan Blok G Tanah Abang yang juga bisa dipakai PKL berdagang, patut dipertimbangkan," ujar Fahira.