Selasa , 14 November 2017, 22:07 WIB

Sosiolog: Aksi WO Ananda Sukarlan tidak Benar Secara Etika

Rep: Mabruroh/ Red: Bayu Hermawan
Republika/ Yasin Habibi
Pianis dan Komponis Ananda Sukarlan
Pianis dan Komponis Ananda Sukarlan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kehadiran Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam acara 90 tahun berdirinya Kolese Kanisius diwarnai kejadian tidak menyenangkan. Seorang alumnus Kolese Kanisius, Ananda Sukarlan memilih meninggalkan ruangan diikuti oleh sebagian alumnus lainnya pada saat Anies berpidato.

Sosiolog Universitas Ibnu Chaldun Jakarta Musni Umar mengatakan, tindakan yang dilakukan Ananda dianggap biasa jika dipandang dari sisi demokrasi. Namun akan berbeda cerita jika dipandang dari sisi etika.

"Kalau kita lihat dari segi demokrasi itu tidak ada masalah, dalam alam demokrasi setuju tidak setuju bisa diekspresikan dengan macam-macam cara, ungkapan, perkataan bisa juga tindakan seperti yang dilakukan (Ananda)," ujar Umar saat dihubungi Republika.co.id di Jakarta, Selasa (14/11).

Hanya saja bila dipandang dari sisi etika lanjut Umar, perilaku komposer kondang tersebut tidak bisa dibenarkan. Alasannya karena kedatangan Anies dalam acara tersebut sebagai tamu ditambah lagi Anies merupakan orang nomor satu di DKI Jakarta.

"Dari segi etika tidak benar. Jadi walaupun kita tidak setuju, kita menghormati, itulah sesungguhnya etika yang harus ditumbuhkan di Indonesia. Jadi tamu itu dihormatilah," jelasnya.

Anies pun terang Umar, sebagai Gubernur DKI yang mendapatkan undangan dari sekolah tersebut telah berusaha untuk hadir. Artinya Anies menghormati pihak yang memiliki acara dengan hadir dan memberikan sambutan.

Oleh karena itu, menurut Umar aksi keluar dari ruangan dianggap sebagai sikap yang menunjukan ketidakdewasaan pemiliknya. Dan justru menampakkan bahwa masih belum bisa menerima kekalahan atas kemenangan Anies dalam Pilkada DKI Jakarta.

"Tidak mau menerima kekalahan, realitas, hanya mau menang dan tidak mau kalah. Itu juga tidak benar dalam demokrasi," kata Umar.

Untuk diketahui peristiwa bermula pada saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghadiri undangan 90 tahun berdirinya Kolese Kanisius. Acara tersebut di gelar di Jakarta International Expo Kemayoran pada Sabtu (11/11).

Anies sendiri mengaku tidak tahu jika ada yang keluar dari ruangan tersebut pada saat dirinya tengah memberikan sambutan. Namun jika benar yang terjadi demikian, Anies tidak ambil pusing bahkan menganggap kejadian itu sebagai salah satu bonus dirinya setelah menjadi Gubernur DKI.

"Jadi saya akan menyapa semua, mengayomi semua. Kalau kemudian ada reaksi negatif yah itu bonus buat saya, nggak ada sesuatu, biasa aja," ujar Anies di Balai Kota.