Kamis , 07 December 2017, 21:27 WIB

LRT di Bekasi Ditargetkan Beroperasi Mei 2019

Rep: Farah Noersativa/ Red: Bayu Hermawan
Yulius Satria Wijaya/Antara
Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) di samping tol Jagorawi,  Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (23/11).  Direktur Keuangan KAI Didiek Hartantyo mengatakan, pembengkakan nilai investasi pembangunan proyek LRT yang tadinya sebesar Rp26,7 triliun menjadi Rp31 triliun, masih belum final.
Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) di samping tol Jagorawi, Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (23/11). Direktur Keuangan KAI Didiek Hartantyo mengatakan, pembengkakan nilai investasi pembangunan proyek LRT yang tadinya sebesar Rp26,7 triliun menjadi Rp31 triliun, masih belum final.

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Kota Bekasi akan mempunyai moda transportasi baru berteknologi tinggi berupa Light Rail Transit (LRT). Penyelenggaraan LRT di Bekasi termasuk dalam penyelenggaraan Tahap 1.

Pejabat Pembuat Komitmen Kementrian Perhubungan (Kemenhub) Republik Indonesia (RI) Jumardi menyebut penyelenggaraan LRT Tahap 1 ditargetkan beroperasi pada Mei 2019. "Tetap sesuai target, Mei 2019 LRT tahap 1 akan beroperasi," kata Jumardi kepada Republika.co.id, Kamis (7/12).

Proyek yang memerlukan dana Rp 31 triliun itu, katanya, akan beroperasi sebanyak enam kereta dalam satu set kereta berkapasitas 800 penumpang. "Untuk harga tiketnya, terakhir dikaji paling mahal adalah Rp 12 ribu, saya kira masih terjangkau," ujarnya.

Penyelenggaraan LRT Tahap 1 itu meliputi lintas pelayanan Cawang-Cibubur, Cawang-Kuningan Dukuh Atas, dan Cawang-Bekasi Timur. Jumardi mengatakan, untuk total panjang jalur LRT Tahap 1 adalah 43,1 km.

Hal itu terdiri atas lintas pelayanan Cawang-Cibubur sepanjang 14,3 km dan lintas pelayanan Cawang-Kuningan-Dukuh Atas sepanjang 10,5 km. Lalu untuk lintas pelayanan Cawang-Bekasi Timur, jalur yang ada yakni sepanjang 18,3 km.

Jumardi juga mengatakan proyek penyelenggaraan LRT dipangku oleh 11 stakeholder. Ada PT. Adhi Karya sebagai pembangun prasarana LRT termasuk depo, Kemenhub sebagai penanggung jawab, PT. KAI sebagai penyelenggara LRT, Menteri Keuangan untuk memberikan persetujuan kontrak tahun jamak.

Ia melanjutkan, stakeholder itu adalah Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk melakukan pemeriksaan, dan juha Gubernur, Wali Kota dan Pemerintah Daerah terkait.

"Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dan Menteri Agraria dan Tata ruang juga ikut terlibat dalam proyek penyelenggaraan LRT ini," jelasnya.

Penyelenggaraan LRT Tahap 1 khusus lintas pelayanan Cawang - Cibubur per 24 November, kata Jumardi, mencapai 45 persen. Sementara pada lintas pelayanan Cawang-Dukuh Atas msncapai 11 persen. "Di lintas pelayanan Cawang - Bekasi Timur progressnya mencapai 26 persen," ucapnya.

Saat ini, kata Jumardi, proses penyelenggaraan LRT Tahap 1 di bulan Desember 2017 sampai Maret 2018 sedang dilakukan pengadaan lahan. Khususnya pengadaan lahan untuk depo, sebagai garasi dari kereta. Kemudian pada Maret 2018, rencananya akan dibangun depo di kawasan Jatimulya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

Jumardi mengungkapkan, masih ada 11 hektar lahan untuk depo LRT yang belum dilakukan pembebasan lahan. Enam hektar di antaranya merupakan milik PT Adhi Karya, yang saat ini ditempati oleh 300 Kepala Keluarga (KK). Sementara, lima hektar lainnya, kata dia merupakan milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

"Pembebasan lahan setidaknya membutuhkan waktu selama lima hingga enam bulan, tapi kita targetkan awal tahun sudah selesai sehingga Maret 2018 sudah pengerjaan depo," ujar Jumardi.