Kamis , 07 December 2017, 22:15 WIB

Polda Metro: Belum Ada Informasi Demo di Kedubes AS

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Bayu Hermawan
Republika/Singgih Wiryono
Kadiv Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono
Kadiv Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Polda Metro Jaya mengatakan belum mendapatkan informasi akan adanya aksi unjukrasa menolak keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Namun, pihak kepolisian sudah melakukan pengamanan di Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat di Jakarta.

"Kita belum dapat informasi (tentang Aksi Tuntutan Palestina). Peningkatan keamanan menggunakan patroli ya," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Kamis (7/12).

Argo mengatakan, kepolisian sampai sekarang belum mendapatkan informasi tentang aksi yang direncanakan akan dilaksanakan pada besok (8/12). Namun, kepolisian tentu akan siap siaga dan patroli menjaga. Selain memang Kedubes AS merupakan objek vital, dan dari Brimob juga sudah terploting standar pengamanan di objek vital itu.

"Petugas-petugas Pam Obvit yang menjaga di kedutaan, juga akan kita tambah anggota patroli untuk mem-backup ke sana," jelas Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol Roma Hutajulu.

Hingga saat ini, juga belum ada permintaan untuk melakukan pengamanan lebih di wilayah Kedubes Amerika Serikat. Terkait aduan-aduan dari warga juga belum diterima oleh kepolisian.

"Kita tambah-tambah patroli lah lewat-lewat dikit, kontrol, pemantauan tetap ada.Biasa itu objek-objek vital dari Polres, Kedubes-Kedubes kita kelilingi terus. Ini kan baru satu hari jadi Kapolres. Kita sudah antisipasi, semua pengamanan sama dengan Kedubes lain," jelasnya.

Sebelumnya, Trump telah mengumumkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Rabu (6/12). "Sudah waktunya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel," katanya ketika membuat pengumuman di Gedung Putih.

Keputusan ini segera ditolak dan dikritik oleh dunia internasional, terutama negara-negara Arab. Keputusan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dinilai sebagai sebuah kesalahan fatal dan jelas melanggar kesepakatan dan resolusi internasional.