Minggu, 5 Ramadhan 1439 / 20 Mei 2018

Minggu, 5 Ramadhan 1439 / 20 Mei 2018

Sandiaga Hubungkan Ambruknya LRT dengan Teori Angsa Hitam

Selasa 23 Januari 2018 11:24 WIB

Rep: Sri Handayani/ Red: Nur Aini

Pekerja mengecek kondisi konstruksi proyek Light Rapid Transit (LRT) yang roboh di kawasan Jalan Raya Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur, Senin (22/1).

Pekerja mengecek kondisi konstruksi proyek Light Rapid Transit (LRT) yang roboh di kawasan Jalan Raya Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur, Senin (22/1).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Teori angsa hitam merujuk peristiwa yang jarang terjadi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Gubernur DKI Jakarta menghubungkan insiden jatuhnya box girder pada proyek light rapid transit (LRT) di Pulo Gadung, Jakarta Timur dengan teori angsa hitam (black swan theory). Ia mengatakan kasus itu jarang terjadi.

"Black swan, yang terjadi kemarin itu adalah black swan, di mana yang sangat jarang terjadi, kemarin terjadi," kata Sandiaga di lokasi proyek konstruksi Equstrian, Jalan Pulo Mas Raya, Jakarta Timur, Selasa (23/1).

 

Teori Angsa Hitam merujuk pada peristiwa langka yang berdampak besar, sulit diprediksi, dan di luar perkiraan biasa. Teori ini dideskripsikan oleh Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya The Black Swan tahun 2007.

 

Sebuah kejadian dapat dikatakan sebagai peristiwa black swan apabila memenuhi beberapa peristiwa. Pertama, muncul secara mengejutkan. Kedua, mempunyai pengaruh besar. Ketiga, setelah muncul dijelaskan oleh peninjauan ke belakang manusia.

 

Taleb menjelaskan, banyak penemuan ilmiah masuk dalam kategori black swab. Beberapa contoh peristiwa black swan adalah kemunculan internet, peristiwa Perang Dunia I, dan peristiwa 11 September 2011.

 

Sandiaga mengatakan peristiwa jatuhnya box girder jarang sekali terjadi di dunia maupun dalam sejarah pembangunan konstruksi di Indonesia. Namun, musibah itu terjadi di Indonesia kemarin (22/1) dan menyebabkan lima orang terluka.

 

Menurut politikus Partai Gerindra itu, PT Jakarta Propertindo (JakPro) dan PT Wijaya Karya (Wika) Tbk telah melakukan semua prosedur dengan benar. Petunjuk keselamatan (safety induction) juga telah disampaikan, dan semua pekerja menggunakan alat pelindung diri (APD).

 

Sandiaga tak ingin menyalahkan siapa-siapa dalam insiden tersebut. Ia ingin kesehatan dan keselamatan kerja (K3) menjadi budaya di tempat-tempat kerja.

 

Ia meminta Jakpro dan Wika memetakan semua risiko yang mungkin terjadi di lokasi proyek. Sebab, kata Sandiaga, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan membangun lebih banyak infrastruktur dalam limat tahun ke depan.

 

"Petakan semua risiko walau tidak terpikirkan tapi kita harus perhatikan the unknowns of the unknowns. Itu yang harus kita jalankan. Mudah-mudahan kita bisa tanamkan sebagai budaya," ujar Sandiaga.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES