Kamis, 3 Sya'ban 1439 / 19 April 2018

Kamis, 3 Sya'ban 1439 / 19 April 2018

Ondel-Ondel, Wujud Lestari Budaya Betawi

Rabu 14 Februari 2018 05:17 WIB

Rep: mg01/ Red: Andri Saubani

Ondel-ondel yang berada di Kramat Pulo, Jalan Kembang Pacar, Kramat, Senen, Jakarta Pusat.

Ondel-ondel yang berada di Kramat Pulo, Jalan Kembang Pacar, Kramat, Senen, Jakarta Pusat.

Foto: Foto: mg01
Harganya sekitar Rp 4 juta hingga Rp 6 juta untuk sepasang ondel-ondel.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pagi hari di setiap sudut Ibu Kota Jakarta dipenuhi warganya yang melakukan aktivitas mulai dari berdagang, pergi ke kantor, hingga ke pasar untuk berbelanja. Termasuk masyarakat yang berada di Kramat Pulo, Jalan Kembang Pacar, Kecamatan Kramat, Kelurahan Senen, Jakarta Pusat.

Namun, aktivitas pagi mereka nampak berbeda karena yang dilakukan adalah membuat kerajinan budaya Betawi yakni ondel-ondel. Di sepanjang jalan tersebut, terdapat deretan rumah yang rata-rata berprofesi sebagai pengrajin ondel-ondel.

Saat ada pesanan, mereka biasa membuat ondel-ondel di pinggir Jalan Kembang Sepatu. Daerah ini memang dikenal sebagai wilayah yang masyarakatnya masih mencintai budaya Betawi dengan cara salah satunya melestarikan ondel-ondel dengan cara memproduksinya.

Abdul Halif (32 tahun) salah satu pengrajin ondel-ondel dari Sanggar Betawi Mamit dkk menuturkan, dalam satu bulan, tak menentu ia mendapat orderan. Tetapi, biasanya ada dua hingga tiga kali ada orang yang memesan ondel-ondel di sanggar yang dahulunya milik almarhum ayahnya, dan telah berdiri sejak tahun 1980-an itu.

Untuk sepasang ondel-ondel biasanya memakan waktu sampai tiga hari pengerjaan, mulai dari merangkai badan menggunakan potongan bambu, hingga membuat wajah dengan menggunakan bahan fiber. Tak jarang hujan turun jadi kendala Halif dan teman-temannya membuat ondel-ondel, karena proses pembuatannya dilakukan di pinggir jalan.

Ia mematok harga Rp 4 juta hingga Rp 6 juta untuk sepasang ondel-ondel yang berukuran sekitar dua meter lebih. Dan keuntungannya dibagikan ke teman-temannya yang membantu membuat ondel-ondel tersebut.

"Kita ingin lebih sejahtera, Saya nggak bisa lepas (buat ondel-ondel), ini budaya Betawi biar tetap ada jangan sampai hilang," katanya.

Awal Februari 2018, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno meluncurkan program One Kecamatan One Ondel-ondel Betawi (OK Obe). Program ini diharapkan bisa melestarikan budaya Betawi dan mensejahterakan masyarakat yang ikut andil di dalamnya.

Ketua Umum Perkumpulan Gerakan OK Oce (PGO) Faransyah Jaya mengatakan, di Jakarta, semua perihal kewirausahaan memayungi OK Oce dan OK Oce akan dipayungi oleh PGO. Hingga saat ini, ia menurutkan, belum ada pembahasan lebih jauh soal program OK Obe, karena program tersebut juga baru saja diluncurkan pekan lalu.

Ia menambahkan, program OK Obe ini terdapat dua sisi, yang pertama adalah segi kewirausahaan dan kebudayaan. Dari sisi budayaan yang memiliki wewenang adalah dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta yang tentu sudah ada dalam program OK Oce.

Program OK Obe ini, menurut Faransyah, bukan hanya tertuju pada ondel-ondel saja, namun lebih kepada budaya Betawi keseluruhan, mulai dari tarian-tariannya, makanan khas, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Dari segi kewirausahaan masuk dalam program OK Oce.

Farasnyah mengatakan, saat ini pihaknya tengah memetakan budaya-budaya Betawi mana saja dari sisi kewirausahaanya. Misalnya ondel-ondel, masyarakat yang telah tergabung OK Obe akan diberi pelatihan bagaimana cara jadi wirausaha yang baik dari segi keahlian juga mentalnya.

Program OK Oce sendiri memiliki beberapa tahapan, yang pertama adalah pendaftaran, kemudian pelatihan, pendampingan, perizinan pemasaran, dan laporan keuangan. Jika tahapan tersebut telah dilalui dengan baik, maka ada kesempatan bagi masyarakat bisa diberi modal, dalam hal ini misal ondel-ondel, masyarakat akan diberi modal agar bisa mengembangkan bisnisnya yang tentu budaya Betawi akan tetap terjaga.

"Secepatnya kita akan bergerak komunikasi dengan mereka (komunitas Betawi) apa pelatihan khusus spesialisasi yang mereka inginkan, apakah bisa diduplikasi ke setiap kecematan. Tapi memang komunikasi belum sampai ke detail itu karena arahannya belum lama," kata Faransyah.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA