Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Cerita Bikin Ondel-Ondel di Pinggir Jalan

Rabu 14 February 2018 01:16 WIB

Rep: mg01/ Red: Andri Saubani

Ondel-ondel yang berada di Kramat Pulo, Jalan Kembang Pacar, Kramat, Senen, Jakarta Pusat.

Ondel-ondel yang berada di Kramat Pulo, Jalan Kembang Pacar, Kramat, Senen, Jakarta Pusat.

Foto: Foto: mg01
Pengrajin di Kramat Pulo tak punya lokasi khusus merakit ondel-ondel.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kramat Pulo, Jalan Kembang Pacar, Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat merupakan tempat yang dikenal sebagai daerah dengan pengrajin ondel-ondel dan budaya Betawinya. Di jalan ini terdapat masyarakat yang memiliki sanggar budaya Betawi yang salah satunya dengan membuat ondel-ondel.

Namun, pemukiman yang padat dan terbatasnya lahan yang ada terpaksa menjadikan mereka melakukan pengerjaan ondel-ondel di pinggir jalan depan rumah mereka. Hal itu membuat tak hanya kendaraan yang lewat sedikit tertanggu, tapi juga sampah yang berserakan.

Salah satunya Darussalam (33 tahun) pengrajin dari Sanggar Respal Agus dkk terpaksa membuat ondel-ondel pesanan dari pembelinya di pinggir jalan, ia mengaku memang biasa melakukan aktifitas itu di pinggir jalan tersebut. Tak jarang, demi mentuntaskan pesanan, ia bersama teman-temannya harus panas-panasan, jika hujan turun terpaksa ia tak bisa melakukan pekerjaanya.

Memang tidak setiap hari ia bisa menerima pesanan ondel-ondel, paling tidak dalam satu bulan ia bisa mendapat orderan dua sampai tiga kali, yang semuanya dikerjakan di pinggir jalan, mulai dari merangkai badan dengan bambu, memakaikan pakaian, dan membuat wajah ondel-ondel dengan bahan fiber yang dicetak, lalu dicat, kemudian dijemur.

Darussalam mengatakan, ia sudah bertahun-tahun berprofesi sebagai pengrajin ondel-ondel, menurutnya hal ini bukan hanya sekadar profesi, tapi sekaligus upaya dalam menjaga, dan melestarikan budaya Betawi, yang juga budaya tersebut mengalir di darahnya.

Ia memiliki impian, budaya Betawi salah satunya ondel-ondel bisa dikenal lebih dekat oleh seluruh masyarakat Indonesia, juga lebih terkenal di seluruh dunia. Darus, sapaan akrabnya juga menyayangkan, banyak pemuda Betawi yang tak tergerak hatinya untuk menjaga budayanya sendiri.

Meski pengerjaan ondel-ondel dilakukan di pinggir jalan, ia mengaku, kegiatan ini sama sekali tidak mengganggu kendaraa yang lewat, sampah-sampah bekas bambu, juga ijuk yang digunakan untuk kepala ondel-ondel juga selalu ia bersihkan dan dibuang ke tempat sampah.

Darus dan pengrajin ondel-ondel lain di Kramat Pulo ingin ada satu tempat yang disediakan khusus, tidak hanya untuk membuat ondel-ondel, tapi juga kebudayaan Betawi lainnya, mulai dari tarian, makanan, juga kegiatan-kegiatan lainnya.

"Mau nggak mau kita bikin di pinggir jalan, soalnya nggak ada tempat, kita panas-panasan, kalau hujan kerjaan berhenti. Ya mudah-mudahan saja kita disediain tempat begitu. Ini kan (ondel-ondel) budaya Betawi, kalo bukan kita kan siapa lagi yang melestarikan dan menjaganya biar nggak hilang," kata Darus.

Kasi Ekonomi Pembangunan dan Lingkungan Hidup Kelurahan Kramat, Ethga Langi mengatakan, keberadaan "Kampung Betawi" di Kramat memang harus tetap ada agar kebudayaan Betawi bisa tetap terjaga. Terlebih dengan adanya program One Kecamatan One Ondel-ondel Betawi (OK Obe) yang baru diluncurkan Pemprov DKI diharapkan bisa melestarikan budaya betawi dan mensejahterakan masyarakatnya.

Ia tidak menampik adanya pengrajin ondel-ondel yang melakukan pekerjaanya di pinggir jalan, meski dirinya juga mengaku prihatin atas tersebut. Dirinya juga sering mendapat laporan bahwa petugas kebersihan sering kali mendapati sampah sisa pembuatan ondel-ondel yang berserakan.

"Itu termasuk usaha mereka, jadi saya harapannya ke depan jadi sama-sama lah di satu pihak PPSU dia gak terlalu banyak mengerjakan kerjaan di situ. Di satu pihak mendapatkan hasil yang baik tetapi juga ada tempat yang khusus itu harapan buat pengrajin ondel-ondel, itu kan budaya kita ya, Betawi," katanya.

Camat Senen, Munjir Munaji mengatakan, diluncurkannya program OK Obe, Kecamatan Senen sangat mendukung sekali, terlebih memang di salah satu wilayahnya memang sudah sejak dari dulu terdapat daerah yang memproduksi ondel-ondel yang merupakan budaya Betawi.

Munjir menjelaskan, program tersebut memang diperuntukan bagi setiap kecamatan di wilayah DKI Jakarta agar mengembangkan budaya Betawi mulai dari ondel-ondel, makanan khas, tarian, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Terkait dengan aktifitas pengrajin ondel-ondel di pinggir jalan Kramat Pulo dekat Pasar Golek tersebut Munjir mengaku tidak ada masalah.

Koordinasi telah dilakukan kepada RT, RW dan Lurah setempat agar mengawasi setiap kegiatan pengrajin ondel-ondel tersebut agar tertib, meski mereka hanya bekerja di waktu-waktu tertentu tidak setiap hari. Pihaknya juga saat ini tengah mencari tempat yang cocok menempatkan mereka di satu tempat agar tidak bekerja di pinggir jalan. "Buat tempat khusus, nanti kita mau cari juga, memang juga belum ada," katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES