Thursday, 10 Sya'ban 1439 / 26 April 2018

Thursday, 10 Sya'ban 1439 / 26 April 2018

Partai Demokrat di Antara AHY dan TGB

Sabtu 17 March 2018 05:03 WIB

Rep: Farah Nabila Noersativa, Idealisa Masyrafina/ Red: Elba Damhuri

Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) menyampaikan tausiah di Masjid Salman ITB, Bandung, Jawa Barat (Jabar), Jumat (16/3).

Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) menyampaikan tausiah di Masjid Salman ITB, Bandung, Jawa Barat (Jabar), Jumat (16/3).

Foto: dok. Humas Pemprov NTB
TGB dan AHY memiliki kelebihan dan kekurangan.

REPUBLIKA.CO.ID  Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Tuan Guru Zainul Majdi (Tuan Guru Bajang/TGB) terus menjadi pembicaraan hangat belakangan ini. Kedua nama ini muncul sebagai calon pemimpin yang layak maju pada pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

AHY, putra mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, terus digadang-gadang Partai Demokrat untuk tampil baik sebagai capres maupun cawapres. Meski dinilai tidak memiliki pengalaman, AHY memiliki potensi besar mengingat popularitas dia cukup tinggi sejak menjadi calon gubernur DKI pada tahun lalu.

Demokrat mencoba melakukan pendekatan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar mempertimbangkan AHY mendampinginya sebagai cawapres pada Pilpres 2019. PDI Perjuangan secara resmi mengumumkan pencalonan Jokowi sebagai capres, namun belum menentukan sosok cawapresnya. Spekulasi pun bertebaran terkait siapa cawapres Jokowi.

Sejumlah nama dimunculkan sebagai profil yang pas untuk mendampingi Jokowi. Di antaranya, Budi Gunawan, Puan Maharani, Muhaimin Iskandar, Mahfud MD, AHY, Airlangga Hartarto, hingga TGB.

Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Indria Samego, menilai AHY pantas mendampingi Jokowi dalam pilpres 2019. Meski, Ketua Kogasma Pemenangan Pemilu Partai Demokrat ini dinilai belum banyak memiliki pengalaman.

AHY memang patut diperhitungkan. Sebab, sosok mudanya akan mendulang suara dari pemilih muda. ''Tentu saja anak muda minus pengalaman,'' kata Indria, Rabu (14/3).

Indria tidak memungkiri kesan kurang pengalaman memang melekat pada diri AHY. Namun, katanya, pemilih terkadang memilih berdasarkan pada popularitas.

Pengamat politik Universitas Paramadina, Djayadi Hanan, berpendapat AHY patut diperhitungkan mengingat memiliki elektabilitas cukup kompetitif. AHY juga tokoh muda yang bisa diharapkan jadi pemimpin, walaupun memang belum berpengalaman.

Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan menegaskan, soal AHY yang belum memiliki pengalaman di pemerintahan tidak bisa menjadi ukuran. "Tanyalah Bung Karno, apakah punya pengalaman pernah jadi Presiden? Tanyalah John F Kennedy, tanya jugalah Perdana Menteri Prancis. Karena itu, pengalaman bisa ditafsirkan luas, bisa juga sempit," jelasnya.

SBY dan Demokrat memang sangat serius membawa-bawa AHY sebagai pemimpin masa depan bangsa. Saat memberikan sambutan pada pembukaan Rapimnas Partai Demokrat di Sentul International Convention Center, Bogor, beberapa waktu lalu, SBY memberikan sinyal penting terkait posisi AHY.

SBY memuji Presiden Jokowi yang hadir pada Rapimnas Demokrat dan siap bergabung dengan koalisi pejawat. SBY menyatakan tidak menutup kemungkinan Demokrat mengusung Joko Widodo sebagai calon presiden. "Pak Presiden, jika Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa menakdirkan, sangat bisa Partai Demokrat berjuang bersama bapak," ujar SBY.

Namun, Indria Samego mengingatkan adanya potensi kekecewaan dari parpol pendukung Jokowi jika Agus Harimurti yang akhirnya dipilih sebagai cawapres. Apalagi, parpol-parpol itu sudah menyorongkan tokoh pilihannya untuk menjadi pendamping Jokowi.

''Tidak mudah bagi partai lain untuk menerima AHY. Ada sistem konvensi dan tinggal Jokowi mau atau tidak melakukan itu," kata Indria.

Partai pendukung Jokowi bisa kecewa apabila tokoh-tokohnya gagal bersanding dengan Jokowi. Indria menilai mereka bisa saja mencabut dukungannya. Menurutnya, persoalan sebenarnya terletak pada jumlah kandidat cawapres yang banyak.

Ketua DPP PKB, Lukman Edy, mengungkapkan AHY tidak cocok dipasangkan dengan Jokowi. Menurut Lukman, Jokowi idealnya berpasangan dengan cawapres yang mewakili keterwakilan umat Islam.

Lukman mengatakan Pilpres 2019 akan berbeda dengan Pilpres 2014. Pada pemilihan kali ini, isu Islam mendapat perhatian besar dari publik.

Lukman menilai AHY masih belum terlalu kuat untuk mewakili isu Islam tersebut, sehingga tidak memiliki elektabilitas signifikan dalam Pilpres 2019. Meski, AHY termasuk generasi muda yang berpotensi untuk berkiprah dalam dunia politik.

Ia menyakini tokoh atau aktivis Islam akan memberikan tingkat elektabilitas yang tinggi. Presentasi elektabilitas kumulatif mereka akan lebih tinggi dibandingkan tokoh nasional, yakni mencapai 24 persen.

TGB

Demokrat juga memiliki TGB yang saat ini terus melakukan safari dakwah keliling Indonesia. TGB telah dua periode menjadi Gubernur NTB dengan catatan kinerja cukup meyakinkan. Artinya, dia memiliki jejak dan warisan kesuksesan selama 10 tahun menjadi Gubernur NTB.

Partai Demokrat pun diminta untuk mempertimbangkan mengusung TGB M Zainul Majdi di bursa Pilpres. Sebab, TGB dinilai memiliki massa riil dibandingkan massa AHY yang berupa fans.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES