Friday, 11 Sya'ban 1439 / 27 April 2018

Friday, 11 Sya'ban 1439 / 27 April 2018

Indonesia tak Bubar, Hanya Berpotensi Jadi Negara Gagal

Kamis 22 March 2018 06:21 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

 Prabowo Subianto

Prabowo Subianto

Foto: dok. Republika
Pidato Prabowo Subianto soal Indonesia akan bubar pada 2030 menjadi perbincangan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Umi Nur Fadhiah, Dessy Suciati Saputri, Debbie Sutrisno, Farah Noersativa

JAKARTA -- Pidato Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tentang hasil kajian internasional yang menyebut Indonesia bakal bubar pada 2030 ramai diperbincangkan masyarakat. Namun, pidato Prabowo yang berupa prediksi dianggap sebagai sebuah analisa fiksi. Sebab, menurut politikus Partai Bulan bintang (PBB) Sukmo Harsono, penyebutan yang paling masuk akal adalah negara gagal.

Sukmo menilai pidato yang disampaikan Prabowo adalah sebuah peringatan dini. "Indonesia bubar 2030 adalah sebuah early warning (peringatan dini) dari Prabowo Subianto," kata dia kepada Republika.co.id, Rabu (21/3).

Ia mengatakan, berbagai hal bisa menyebabkan Indonesia menjadi negara gagal, seperti, utang yang mencapai Rp 4.000 triliun, politik SARA yang tak terkendali, dan runtuhnya ekonomi nasional karena manajemen yang keliru. "Berisiko besar membuat NKRI menjadi negara gagal," ujar Sukmo.

Dijelaskan Sukmo, makna gagal tersebut, yakni gagal menyejahterakan rakyat dan mempertahankan negara kesatuan. Menurut dia, apabila hal itu terjadi maka negara telah gagal mewujudkan cita-cita pendiri bangsa Indonesia.

Menurut Sukmo, ada harga mahal yang harus dibayar pemerintah apabila mengandalkan utang untuk membangun infrastruktur. "Oleh sebab itu, hati-hati memilih presiden di 2019. Salah pilih, Anda membangun peradaban atau Anda menghacurkan peradaban," tutur dia.

photo

Utang Indonesia melonjak

Prabowo menyebut Indonesia bubar pada 2030 berdasarkan hasil kajian internasional. Hal itu disebabkan adanya ketimpangan penguasaan kekayaan dan tanah. Video pidato Prabowo tersebut beredar di media sosial Facebook.

Pidato Prabowo itu pun langsung mendapatkan respons dari sejumlah pihak, termasuk Istana. Menurut Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi, pernyataan Prabowo tersebut justru tak sesuai dengan kenyataan kondisi Indonesia saat ini yang makin membaik.

"Itu perlu ditanya juga kan harus ada kajian ilmiah, analisis. Anda kan sering baca juga analisis Indonesia oleh orang luar kan optimisme dibangun orang-orang luar atas perkembangan di Indonesia, oleh pakar-pakar ekonomi tingkat dunia loh ya," kata Johan di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Rabu (21/3).

Prabowo menjelaskan, saat ini peringkat kemudahan berinvestasi di Indonesia pun makin membaik dari tahun ke tahun. Hal ini menjadi salah satu parameter Indonesia menuju ke arah yang lebih baik.

"Kalau dari sisi ranking, misalnya, tingkat investasi di Indonesia meningkat, nomor dua kalau enggak salah setelah Filipina. Ini kan parameter menuju negara lebih baik kan, bukan sebaliknya," katanya.

Karena itu, Johan pun mempertanyakan dasar dari kajian tersebut. Kendati demikian, ia menegaskan, pemerintah saat ini tengah berupaya untuk mewujudkan Indonesia emas pada 2045 nanti.

"Tapi yang pasti yang dilakukan pemerintahan Pak Jokowi-JK justru ingin menjadikan negara ini yang menempati posisi yang diperbincangkan di tingkat dunia, 2045 Indonesia emas. Justru itu upaya-upaya itu menuju ke sana," ujar Johan.

Namun, Johan juga menyampaikan, pemerintah juga akan menerima hasil kajian tersebut sebagai masukan jika data yang dihasilkan memang valid. "Tapi kalau itu dimaksudkan sebagai masukan dengan analisis yang begitu banyak, misalnya, ya tentu sah-sah saja bisa dipelajari karena dihasilkan data-data yang valid," katanya menambahkan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES