Jumat, 10 Ramadhan 1439 / 25 Mei 2018

Jumat, 10 Ramadhan 1439 / 25 Mei 2018

Sepenggal Cerita Pertemuan Alumni 212 dengan Presiden

Jumat 27 April 2018 14:57 WIB

Rep: Fuji EP, Febrianto Adi Saputro/ Red: Budi Raharjo

Anggota Tim 11 Alumni 212 Nur Sukma bersama Abdul Rasyid Abdullah Syafii, Sekretaris Tim 11 Alumni 212 Muhammad Al Khaththath, Ketua Tim 11 Alumni 212 Misbahul Anam, Yusuf Muhammad Marta dan Slamet Maarif (dari kiri) memberikan paparan saat melakukan konferensi pers di kawasan Tebet, Jakarta, Rabu (25/4).

Anggota Tim 11 Alumni 212 Nur Sukma bersama Abdul Rasyid Abdullah Syafii, Sekretaris Tim 11 Alumni 212 Muhammad Al Khaththath, Ketua Tim 11 Alumni 212 Misbahul Anam, Yusuf Muhammad Marta dan Slamet Maarif (dari kiri) memberikan paparan saat melakukan konferensi pers di kawasan Tebet, Jakarta, Rabu (25/4).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Sempat bahas kasus Habib Rizieq, dan ulama tidak mendatangi umara kalau tak diundang.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Anggota Tim 11 Ulama Alumni 212 Ustaz, Ahmad Sobri Lubis, mengatakan, Presiden selalu menyatakan tidak ada kriminalisasi ulama sehingga merasa penting untuk bertemu Presiden dan membawa bukti-bukti. Termasuk Kiai Al Khaththath yang sudah ditahan tiga bulan dengan tuduhan tidak jelas.

"Disampaikan langsung (ke Presiden), sekarang sudah keluar (Kiai Al Khaththath), masih tersangka, itu mau ditafsirkan sebagai apa, apakah kriminalisasi atau bukan," kata Ustaz Sobri kepada Republika, di Hotel Bidakara, Rabu (25/4) malam.

Ustaz Sobri yang juga sebagai Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) menyampaikan juga tentang masalah Habib Rizieq Shihab ke Presiden. Menurut dia, FPI juga punya pakar IT yang siap bertanding dengan pakar IT Mabes Polri untuk membuktikan chat mesum Habib Rizieq asli atau hoaks.

Ia berpandangan, Presiden perlu mendengar dari pihak lain, jangan hanya dari satu pihak. Pertemuan kemarin sebenarnya hanya untuk klarifikasi dan silaturrahim. Ternyata, Presiden punya pandangan lain.

"Jadi, kalau selama ini kita ada orang menuduh Presiden buat kriminalisasi, kalau dia (Pesiden) gak ngaku, bisa jadi anak buahnya, cuma yang jelek jadi Presiden," ujarnya.

Ia juga menegaskan, pihaknya tidak mendatangi umara kalau tidak diundang. Pihaknya mendatangi umara dalam rangka menasihati. Umara diingatkan untuk menegakkan syariat Islam. Kalau umara orang Islam, tidak boleh melarang Islam menjalankan perintah agamanya.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menilai, pertemuan diam-diam yang digelar Jokowi dengan para ulama Persaudaraan Alumni (PA) 212 pada Ahad (22/4) lalu adalah pertemuan yang sangat baik. Terlebih lagi, pertemuan tersebut dilakukan untuk menagih janji Jokowi yang tidak akan lagi mengkriminalisasi ulama dan tokoh-tokoh yang terkait dengan aktivis 212.

"Saya belum tahu hasilnya seperti apa nanti kita lihat saja, tapi yang namanya dialog itu sangat bagus, ya. Apalagi bisa disampaikan secara langsung, dijawab juga secara langsung, menurut saya sih bagus-bagus saja. Saya yakin itu nanti akan dijalankan juga oleh PA 212 itu," kata Fadli. n ed: muhammad hafil

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA