Sunday, 12 Ramadhan 1439 / 27 May 2018

Sunday, 12 Ramadhan 1439 / 27 May 2018

Generasi Prestatif Jawa Barat

Senin 14 May 2018 15:00 WIB

Red: Maman Sudiaman

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan didampingi istri mengangkat penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha dari Presiden Republik Indonesia atas prestasi kinerja tertinggi secara nasional, di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (26/4).

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan didampingi istri mengangkat penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha dari Presiden Republik Indonesia atas prestasi kinerja tertinggi secara nasional, di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (26/4).

Foto: Republika/Edi Yusuf
Jabar siapkan Generasi Emas untuk Indonesia 2020-2045.

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh: Dr Ahmad Heryawan*

Mari sekilas mengingat kisah esensial di masa lampau: Dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, dan atau sehari setelah UUD 1945 serta Presiden Soekarno dan Wakil Presiden M. Hatta disahkan, sejarah peradaban Provinsi Jawa Barat mulai terukir per 19 Agustus 1945.

Melalui kiprah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia/PPKI, Jawa Barat (Jabar) kala itu ditetapkan menjadi satu dari delapan provinsi awal di Indonesia di samping Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Borneo, Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil.     

Pemerintahan waktu itu juga menetapkan tiap provinsi dikepalai seorang gubernur dan setiap provinsi terdiri keresidenan-keresidenan yang dikepalai residen. Gubernur pertama Jabar adalah R Soetardjo Kartohadikoesoemo --sebelumnya seorang Syucokan (Residen) Jakarta.

Bung Karno kemudian merilis surat keputusan pengangkatan Gubernur Jabar, masih di tanggal 19 Agustus 1945. Ibu Kotanya pertama kali masih di Jakarta, namun kemudian dipindahkan ke Bandung sejak September 1945.

Masih ada kisah penting masa lalu lainnya. Tepatnya dari gubernur pertama Jabar, Mas Sutardjo Kertohadikusumo, yang pada 13 Juli 1936 mengeluarkan Petisi Soetardjo kepada Ratu Wihelmina tentang pentingnya kesetaraan.

Soetardjo mengajukan protes tata cara konferensi yang menempatkan pamong praja dengan pakaian hitam memakai keris dan duduk sila di atas tikar, sedangkan pegawai Belanda duduk di atas kursi. Mosi ini berbuah bulan berikutnya karena semua duduk sejajar.

Mosi berikutnya adalah pemerintah Belanda harus memberikan sumbangan 25 juta Gulden untuk memperbaiki kondisi ekonomi rakyat desa. Mosi ini diterima, dan diantaranya digunakan pembangunan waduk di Cipanas sebesar 2 juta Gulden. Demikian pula dengan mosi pembentukan welvaartsfonds, atau komisi pemberantasan kemiskinan.

Dua kisah silam ini setidak-tidaknya sudah menggambarkan banyak hal. Utamanya adalah tentang betapa istimewanya posisi Jawa Barat, sebagai daerah pionir yang beroleh otoritas dan pengakuan tinggi dalam pemerintahannya sejak pertama negeri ini merdeka.

Secara simultan, otoritas tersebut tak semata soal pengakuan prestise atau administratif semata. Lebih penting dari itu, istimewanya Jabar secara legal diistimewakan dengan spirit mendahulukan kepentingan rakyat, sehingga terangkum sudah jiwa kemerdekaan yang memberdayakan masyarakat.

Substansi penting inilah yang kiranya menjadi spirit sedari awal, sejak gubernur Jabar masih di bawah kendali residen Jakarta. Hingga diteruskan  pimpinan kami berikutnya, dari mulai Datuk Djamin, dan Ukar Bratakusumah, Sanusi Hardjadinata, Ipik Gandamana, Mashudi, Bapak Solihin GP, H Aang Kunaefi, Yogie Suardi Memet, HR Nuriana, Danny Setiawan, hingga akhirnya kini bersama penulis.

Maka itu, merujuk sisi sosio-historis saja, tak ada alasan untuk tidak merilis segenap daya dan upaya harus dalam menjaga menjaga keistimewaan Jawa Barat dengan meraih berbagai prestasi membanggakan.  Tidak ada negasi untuk tidak meneruskan dan membesarkan keistimewan tersebut dengan terus berkarya paripurna dan selalu menjadi dalam posisi unggul dan terbaik.

Generasi Prestatif

Jika dulu, para pahlawan berjuang dengan berkorban dengan jiwa, pikiran, dan tenaga untuk kemerdekaan Indonesia, maka kini kini berusaha memberikan prestasi kemakmuran bagi bangsa dan negara.

Penulis menempatkan frase ini sebagai fondasi awal karena bonus demografi Indonesia kelak sejatinya adalah peluang bagi Generasi Emas Jawa Barat untuk Indonesia. Penduduk Jabar menyumbang proporsi 20% dari penduduk Indonesia atau 46,53 juta. Dengan rincian 23,6 juta laki-laki dan 23,57 juta perempuan (per 31 Desember 2017).

Proyeksi tahun 2035, penduduk Jawa Barat ada 57,13 juta orang dengan penduduk produktif usia 15-64 tahun mencapai 68,20% atau 38,96 juta orang. Merekalah Generasi Emas Jabar untuk Generasi Emas Indonesia.

Indonesia pada 2045 akan memiliki bonus demografi dengan struktur populasi 70% berada pada kelompok usia produktif (15-64 tahun). Sedangkan 30% lainnya berada pada kelompok kurang produktif (usia di atas 65 tahun dan usia di bawah 14 tahun).

Generasi emas Indonesia dicirikan dengan bonus demografi yang memiliki potensi produktif yang tinggi pada 2020-2045. Jawa Barat harus bersiap karena guncangan Jawa Barat akan menciptakan guncangan nasional.

Dalam perspektif agama, ibadah yang khusuk pun hanya akan terjadi kalau wilayah kita aman dan rakyatnya sejahtera. Untuk itulah, untuk menuju generasi emas, ujung sangat mikro dari semua pembangunan itu adalah pengentasan kemiskinan, pengurangan pengangguran, dan daya dukung alam untuk keberlanjutan pembangunan.

Dalam 10 tahun terakhir, banyak kebijakan yang kami upayakan menunjang kehadiran generasi emas. Terutama adalah prinsip pendidikan sejak dini untuk menghasilkan sumber daya manusia/sumber daya insani Jawa Barat.

Sejak pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi yang memiliki daya saing tinggi, kepeloporan, self regulation, dan selalu berorientasi kepada hasil proses pendidikan yang lebih bermutu dari waktu kewaktu (quality result driven).

Contohnya untuk penduduk sekolah SMA. Tahun 2008 itu hanya 825 ribu atau 45 persen, sementara tahun 2017 sudah 2 juta lebih atau 81,25 persen penduduknya sudah sekolah SMA dan setingkatnya. Pembangunan kelas baru pun ada 50 ribu.

Pemprov Jabar pun sudah menjadikan banyak perguruan tinggi negeri (PTN) dari sejumlah perguruan tinggi swasta (PTS) di Jabar. Diantaranya Unsika Karawang dan Unsil Tasikmalaya. Termasuk membuka kampus Unpad di Pangandaran. Tujuannya untuk mengoptimalkan potensi maritim besar di Jabar yang banyak dimanfaatkan oleh negara asing.

Strategi berikutnya adalah menerapkan prinsip family planning. Dengan menerapkan pola pendidikan seperti ini, generasi emas Jabar akan meraih kesuksesan kembar, yaitu kesuksesan iman taqwa dan Iptek pada berbagai jenjang pendidikan.

Kemudian, menerapkan prinsip penjaminan mutu dan akuntabilitas proses penyelenggaraan pendidikan. Upaya ini untuk memberikan daya tarik kepada masyarakat dan dunia usaha agar mereka bisa memberikan dukungan investasi pendidikan.

Juga, menerapkan prinsip pendidikan dan riset untuk melahirkan dan mengembangkan inovasi berbasis iptek sebagai solusi permasalahan daya saing serta melalui penyelenggaraan Science Techno Park (STP) pada level Provinsi dan Techno Park pada level Kabupaten/Kota.

Tak ketinggalan, menerapkan pola kerja sama multipihak, yaitu Pemerintah/Pemerintah Daerah, akademisi, dunia usaha, dan komunitas dengan dukungan/kontrol dari media.

Karenanya, melahirkan generasi prestatif Jabar adalah meneruskan ikhtiar menciptakan generasi emas Jabar yang menjadi garda terdepan dalam kapitalisasi bonus demografi kelak. Menciptakan upaya berkelanjutan melahirkan generasi tipikal pemimpin Jabar, yang merawat keistimewaan dengan prestasi optimum seraya tetap mendahulukan terciptanya kesetaraan rakyat dalam kemakmuran. Insya Allah.

*Gubernur Jawa Barat, Doktor Manajemen Universitas Padjadjaran

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES