Kamis , 21 September 2017, 08:28 WIB

Pemprov Jabar Ajukan Dua Lokasi Bandara Baru di Sukabumi

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Endro Yuwanto
Republika/Raisan Al Farisi
Stasiun Kereta Api Kota Sukabumi, Jawa Barat, Ahad (8/2).
Stasiun Kereta Api Kota Sukabumi, Jawa Barat, Ahad (8/2).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) akan mengajukan dua lokasi bandara baru di Sukabumi yang dimintakan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Menurut Kepala Dinas Perhubungan Jabar Dedi Taufik, dua lokasi baru ini direncanakan sebagai pengganti dari pengembangan Bandara Citarate yang akan menunjang kawasan geopark Ciletuh-Palabuhanratu, Sukabumi.

"Kami mengajukan Cikembar dan Warung Kiara, suratnya segera dikirim," ujar Dedi kepada wartawan di Bandung, Kamis (21/9).

Menurut Dedi, dua lokasi tersebut sudah sesuai dengan permintaan Kemenhub yang meminta Jabar bagian selatan memiliki bandara baru mengingat potensi ekonomi dan pariwisata yang tinggi. "Kementerian menginginkan, lokasi bandara di Jabar Selatan mendekati ke Kota (Sukabumi), tidak lebih dari 30 kilometer," katanya.

Awalnya, kata Dedi, Pemprov Jabar berharap Kemenhub bisa mengembangkan Bandara Citarate yang dekat dengan kawasan Palabuhan Ratu. Namun karena lokasinya dianggap terlalu jauh, pihak pemprov disarankan mencari lokasi lain. "Untuk lahan ada sekitar 200 hingga 400 hektare di Warung Kiara yang harus dibebaskan karena statusnya hak guna usaha (HGU)," katanya.

Namun, lanjut Dedi, dua lokasi ini juga memiliki hambatan di lapangan karena banyak berdiri tower Sutet meski jaraknya tidak lebih dari 30 kilometer. Agar proyek pembangunan bandara tersebut bisa berjalan lancar, mesti ada koordinasi dengan pihak Kementerian ESDM. "Itu obstacle di lapangannya Sutet, jadi kementerian perhubungan harus koordinasi," jelasnya.

Untuk menyiasati menara Sutet yang berdiri, kata Dedi, dua lokasi ini berdasarkan studi sementara masih bisa digunakan hanya untuk satu arah penerbangan baik take off maupun landing. "Satu arah ini bisa diambil dari arah selatan atau utara. Dari dua lokasi itu tinggal nanti ditentukan oleh kementerian layak yang mana," ucapnya.

Setelah kementerian memutuskan, kata Dedi, maka langkah selanjutnya adalah melakukan studi kelayakan dan penyusunan masterplan bandara. Ia menilai, kementerian mesti bergegas menetapkan lahan karena Presiden Joko Widodo menginginkan agar bandara di wilayah selatan itu segera dibangun. "Harus cepat karena targetnya 2020 sudah dibangun," katanya.

Sementara menurut Sekda Jabar Iwa Karniwa, dukungan agar di wilayah Sukabumi memiliki bandara yang representatif merupakan bagian dari upaya pemerintah mendongkrak kawasan wisata Geopark Ciletuh-Palabuhanratu. "Kalau kawasan geopark mau maju memang harus ada bandara di sana," jelasnya.

Iwa mengatakan, Kemenhub pun sudah sejalan dengan pemikiran bahwa rencana pembangunan bandara di kawasan selatan Sukabumi untuk mendongkrak sektor pariwisata, terutama di Geopark Ciletuh. "Supaya bisa dipakai pesawat komersial untuk terus mengembangkan sektor pariwisata di sana," ujarnya.

Menurut Iwa, kini semakin banyak warga lokal yang memilih moda transportasi udara karena dapat mengirit waktu perjalanan, dibandingkan jalur darat atau laut. Selain itu, transportasi udara ini dapat menjadi penghubung antara Jabar dengan negara-negara di dunia.