Jumat , 29 September 2017, 18:06 WIB

Jabar Bidik Kerja Sama Pengolahan Sampah dengan Korea

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Dwi Murdaningsih
dok. KBRI Korsel
 Penandatanganan kerja sama oleh Ahmad Heryawan dengan Walikota Yoo Jeong-bok di kantor Walikota Incheon, Korsel, Senin (25/9).
Penandatanganan kerja sama oleh Ahmad Heryawan dengan Walikota Yoo Jeong-bok di kantor Walikota Incheon, Korsel, Senin (25/9).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pemprov Jabar  melakukan kunjunganke beberapa kota di Korea Selatan, beberapa waktu lalu. Menurut Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, dalam lawatannya ia telah menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan Walikota Incheon Yoo Jeong-bok tentang Pembentukan Hubungan Kerja Sama Provinsi Bersaudara dan kerja sama teknik dengan Pemerintah Kota Metropolitan Incheon.

"Selain pendidikan, sosial, dan ekonomi kami membidik kerja sama pengolahan teknologi sampah yang diterapkan Korea," ujar Ahmad Heryawan yang akrab disapa Aher di Gedung Sate, Jumat (29/9)

Menurut Aher, setelah menjalin kerja sama dengan kota metropolitan di Korea tersebut, ia berharap beberapa bulan ke depan kerja sama akan terealisasi. Pemprov Jabar, membidik kerja sama di bidang teknologi pengolahan sampah karena, Korea memilikibanyak cara dalam pengolahan sampah.

Selain menandatangani nota kesepahaman dengan Korea, menurut Aher, saat di Korea ia pun memanfaatkan waktu dengan berkunjung ke Geopark Jezu. Karena, sekarang Geopark tersebut sudah memiliki global geopark network. Bahkan, sekarang sudah diganti jadi Unesco Global Geopark.

"Kami berkunjung kesana karena sedang menyipakan Pelabuhan Ratu jadi Geopark juga," katanya.

Bahkan, kata Aher, Geopark Jezu lahannya sebenarnya tak terlalu luas karena hanya ratusan hektare. Sementara geopark Ciletuh luasnya bisa mencapai148 ribu hektare bahkan sampai di angka 180 ribu luasnya.

"Kami berkunjung ke sana karena sedang menyipakan Geopark Ciletuh jadi geopark Unesco," katanya.

Ternyata, kata dia, dari hasil study banding, di Geopark Jezu ada pusat kunjungannya. Karena geopark luas, maka pusat kunjungan ini harus dibuat jadi setiap pengunjung dikatakan masuk ke geopark kalau setelah masuk kesana baru ke lokasi yang lain.

"Pemusatan geopark Ciletuh ini yang harus disiapkan bersama," katanya.

Aher menjelaskan, semua pihak terkait harus menyusun dan menetapkan Geopark Ciletuh pusatnya ada dimana. Karena, sekarang ada 4 pintu. "Pengelolaannya juga kami pelajari disana. Walaupun tentunya punya aturan masing-masing," katanya.

Berita Terkait