Senin , 06 November 2017, 00:45 WIB

Pemprov Jabar Gandeng Jepang untuk Sekolah Keperawatan

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Dwi Murdaningsih
.
Perawat
Perawat

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjajaki kerja sama di bidang pendidikan dengan Universitas Shizuoka, khususnya dengan unit Sekolah Keperawatan. Kerja sama tersebut bertujuan mencetak perawat-perawat yang bersertifikat internasional, serta berkemampuan dan berdaya saing tinggi di mancanegara.

Komunikasi ini dibuka dengan pertemuan antara Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) beserta jajarannya dengan para akademisi Sekolah Keperawatan Universitas Shizuoka, di Universitas Shizuoka, akhir pekan lalu. Kedua belah pihak memberikan pemaparan dan presentasi terkait dengan dunia keperawatan di masing-masing daerahnya.

Menurut Aher, di Jabar terdapat sejumlah sekolah tinggi atau universitas, baik negeri maupun swasta, yang memberikan pendidikan di bidang keperawatan. Contohnya, adalah Universitas Padjadjaran. Kemungkinan, Pemprov Jabar akan merancang kerja sama di bidang pendidikan keperawatan ini antara Universitas Padjadjaran dengan Universitas Shizuoka, terlebih dulu.

"Di Jabar ada ribuan mahasiswa atau mahasiswi di bidang keperawatan," katanya.

Aher berharap, Sekolah Keperawatan Universitas Shizuoka dapat melakukan pertukaran mahasiswa dengan Universitas Padjadjaran. Selain itu, diharapkan sejumlah calon perawat atau perawat ini mendapat standardisasi keperawatan Jepang atau keperawatan internasional.

"Kami harap perawat-perawat dari Jawa Barat bisa merawat, membahagiakan orang-orang tua di Jepang. Menjadi tenaga kesehatan berkualitas di Jepang dan di manapun," katanya.

Sementara menurut Dekan Sekolah Keperawatan Universitas Shizuoka, Kanazawa Hiroaki, pihaknya memberikan pendidikan keperawatan internasional di kampus tersebut. Kanazawa pun merasa sangat terkejut mendengar ada ribuan calon perawat di berbagai perguruan tinggi di Jawa Barat, mengingat kampusnya hanya memiliki 120 calon perawat.

Menurut Kanazawa, selama ini ia baru menjalin pertukaran pelajar dan pemagangan dengan universitas dari Thailand. "Perawat dari sini belajar di Thailand, dan sebaliknya," katanya

Kanazawa mengatakan, sangat penting bagi peningkatan kualitas perawat internasional, untuk mengenal dunia kedokteran dan keperawatan di negara lainnya. Semua hal yang berbeda ini, hanya dapat dipelajari secara langsung di luar negeri asalnya. Kendala saat ini, kata dia, jika menerima perawat dari luar negeri, adalah penguasaan bahasa Jepang yang masih kurang.

"Juga kami memiliki keterbatasan di bahasa Inggris," katanya.