Jumat , 10 November 2017, 16:39 WIB

Golkar: Pengusungan Ridwan Kamil tak Langgar Ketentuan

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Bilal Ramadhan
Republika/Edi Yusuf
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua DPP Partai Golkar Yahya Zaini menyatakan pengusungan Ridwan Kamil pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat 2018 mendatang sudah sesuai dengan aturan partai sehingga tidak ada ketentuan partai yang dilanggar. Namun Yahya mengakui pengusungan calon untuk maju dalam Pilkada memang harus mengutamakan kader partai.

Ini adalah sikap dasar Golkar dalam mengambil kebijakan. Sikap dasar ini diatur dalam Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Nomor 6 Tahun 2016 tentang Penetapan Calon Gubernur, Bupati dan Wali Kota dari Partai Golkar. Meski harus mengutamakan kader, lanjut Yahya, bukan berarti ada keharusan mengusung kader partai dalam Pilkada.

"Enggak ada keharusan. Sikap dasar kita memang mengutamakan kader sendiri, tapi kedua, kita juga ingin menang," kata dia saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (10/11).

Cara untuk menang, jelas Yahya, dengan menggunakan metode survei. Selama berbulan-bulan, survei telah dilakukan dan menempatkan Emil, sapaan Ridwan Kamil, di peringkat pertama. Sedangkan Dedi, katanya, berada di peringkat ketiga. Bahkan berdasarkan survei yang lain, Dedi di peringkat kelima.

"Dedi tergusur ke bawah. Fakta-fakta ini sudah kita kaji mendalam. Atas dasar itu, kalau kita ingin menang, harus dukung calon yang punya elektabilitas yang paling tinggi. Karena itu juga, kita pasangkan dengan Daniel Muttaqien karena dia kader murni Golkar," terangnya.

Jadi, menurut Yahya, tidak ada yang dilanggar Golkar dalam pengusungan Emil di Pilgub Jabar. Juklak Partai Golkar Nomor 6 Tahun 2016 itu hanya persoalan teknis dan bukan AD/ART. "Ini teknis. Ada caranya dan mekanismenya. Sudah kita tempuh semua," katanya.

Yahya juga mengklaim pengusungan calon dari Golkar untuk Pilgub Jabar juga sudah melibatkan Dedi Mulyadi sebagai Ketua DPD Golkar Jabar. Pelibatan Dedi, diakuinya memang memakan waktu yang panjang dan partai sudah memberikannya kesempatan.

"Kita juga enggak ambil sendiri, kita juga melibatkan Dedi, kita ajak. Proses dengan Dedi itu panjang, bukan sebulan dua bulan. Kita beri kesempatan, dan yang bersangkutan sudah berkomitmen sejak awal, 'kalau survei saya tidak tinggi ya saya akan terima'. Dari awal itu," paparnya.