Senin , 13 November 2017, 01:25 WIB

Usung Emil, Pengamat: Bukti Golkar tak Percaya Kader Sendiri

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Bilal Ramadhan
Istimewa
Pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago
Pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Partai Golkar sudah resmi akan mengusung Wali Kota Bandung Ridwan Kamil untuk maju sebagai calon gubernur di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat 2018 mendatang. Keputusan Golkar sangat mengejutkan karena mengusung Emil, sapaan Ridwan, yang bukan kadernya dibandingkan Dedi Mulyadi selaku kader sekaligus Ketua DPD Golkar Jawa Barat.

Menurut dia, bukan tidak mungkin terjadi perpecahan di tubuh partai berlambang pohon beringin tersebut, disebabkan berbeda kehendak atau aspirasi suara akar rumput (grasroot) antara pengurus pusat (DPP Golkar) dengan pengurus DPD Golkar Jawa Barat.

"Awalnya Golkar dipastikan mengusung kader internalnya yaitu Dedi Mulyadi sebagai cagub atau cawagub yang diusung Golkar, namun di tengah jalan terjadi patahan dukungan dan perubahan cuaca politik secara ekstrim, kataDirektur EksekutifVoxpol Center Research and Consulting,PangiSyarwi Chaniago dalam keterangan pers yang diterima, Sabtu (11/11).

Golkar memutuskan tidak mengusung Dedi Mulyadi, lanjut Pangi, DPP Golkar tentupunya alasan dan pertimbangan sendiri mengapa tak mengusung kader internalnya sendiri sebagai calon gubernur (cagub) Jawa Barat. Pertama, alasan racikan popularitas, akseptabilitas dan elektibilitas yang kurang begitu mengembirakan.

Kedua, alasan finansial, kalau golkar mengusung Dedi Mulyadi, DPP dan pengurus Golkar bisa saja kantong kering, tidak ada setoran mahar atau perahu parpol kalau kadernya yang diusung. Ketiga, Dedi Mulyadi mungkin bukan bagian gerbong Ketua Umum DPP Golkar, Setya Novanto. Artinya mungkin saja Dedi Mulyadi bukan anak emas Setnov.

"Keempat, Dedi Mulyadi bisa saja, dugaan saya, beliau kurang piawai dan mahiruntuk melobi dan mengunci figur serta tokoh sentral atau elite penentu di DPP Golkar," jelas lulusan S2 Jurusan Politik Universitas Indonesia (UI) ini.

Golkar pada akhirnya mungkin berpikir realistis, walaupun pada saat yang sama melakukan blunder politik. Pertama, golkar tidak percaya dengan benih rahim kaderisasinya sendiri. Ini salah satu pemantik terjadi perpecahan di tubuh Golkar, sehingga kaderGolkar DPD Jawa Barat belum tentu all out habis mendukung Ridwan Kamil.

Apalagi ada kabar Emil akan bergabung menjadi kader Golkar. Akar rumput Golkar, terutama di Jawa Barat, tentunya akan semakin memanas. Kedua, dealektika meritokrasi tidak berjalan dengan baik, bagaimana fatsun menghargai dan memprioritaskan kader potensial internal sendiri yang punya success story atau prestisius di Jawa Barat.

"Bagaimana logikanya Golkar tidak mengusung kadernya sendiri baik sebagai cagub maupun cawagub," katanya.

Kasus dan pengalaman yang sama bukan tidak mungkin bisa kembali terulang seperti konflik antara pengurus pusat PDIP dengan pengurus di Jakarta saat di Pilgub DKI 2017. Perbedaan tajam dukungan suara akar rumput (arus bawah) menginginkan kader sendiri maju seperti Boy Sadikin atau Djarot sebagai cagub. Boy Sadikin kemudian memutuskan keluar dan mendukung Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

"Hitung-hitungan kalkulasi politik di atas kertas, boleh-boleh saja. Namun jangan sampai terjadi preseden buruk dan tertanam pikiran negatif kader sendiri. Ngapain capek-capek berpikir dan kerja keras berdarah-darah membesarkan partai. Bahkan sekelas Ketua DPD Jabar saja, tidak dihargai partainya sendiri. Ini sangat miris," ujar Pangi.