Kamis , 20 April 2017, 05:08 WIB

Din Syamsudin Ingatkan Pepatah Jawa untuk Kemenangan Anies-Sandi

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nur Aini
Republika/ Darmawan
Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Watim MUI) Din Syamsudin (kanan) didampingi Wakil Ketua Watim MUI Didin Hafiduddin menyampaikan paparannya pada acara Rapat Pleno VIII Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, di Jakarta, Rabu (18/5).
Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Watim MUI) Din Syamsudin (kanan) didampingi Wakil Ketua Watim MUI Didin Hafiduddin menyampaikan paparannya pada acara Rapat Pleno VIII Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, di Jakarta, Rabu (18/5).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menganjurkan masyarakat untuk menerapkan filosofi Jawa dalam melihat hasil Pilkada Jakarta putaran kedua. Petuah hidup "Menang tanpo ngasorake, ngluruk tanpo bolo" atau menang tanpa merendahkan, berjuang tanpa pasukan, dinilainya sangat relevan dengan kondisi saat ini.

"Terlalu mahal harga yg harus kita bayar jika bangsa tercinta terpecahbelah," kata  tokoh Muhammadiyah ini dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Kamis (20/4).

Menurutnya, menjaga diri untuk tidak melampaui batas menjadi poin yang perlu diingat ketika menghadapi kemenangan. Dia mengingatkan memelihara persatuan dan menghindari perpecahan perlu dilakukan.

Perbedaan yang terjadi dalam pilihan politik, kata dia, dipandang merupakan hal biasa. Sehingga, dia menilai tidak seharusnya perbedaan tersebut menjadi perusak dalam tali persaudaran sebangsa.

"Bertasbihlah dengan senantiasa memuji Tuhanmu, dan mohon ampunlah kepadaNya. Sesungguhnya Dia penerima taubat," ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2015.

Din Syamsudin menjelaskan dalam ajaran Islam mengajarkan tentang etika menghadapi kemenangan sehingga penting untuk terus mengingat ajaran-ajaran tersebut.