Jumat , 21 April 2017, 13:38 WIB

PDIP Mulai Hitung Peluang untuk 2018

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Nur Aini
Republika/Rakhmawaty La'lang
Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira
Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kekalahan PDIP di Pilgub DKI Jakarta dan Pilgub Banten dalam Pilkada Serentak 2017 menjadi evaluasi PDIP dalam menatap pilkada serentak 2018 mendatang. Hal ini karena pilkada yang akan dilaksanakan Juni 2018 digelar di 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten.

Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira mengatakan, dua kekalahan tersebut menjadi bahan evaluasi ke depan bagi PDIP dalam menatap Pilkada 2018 mendatang. Hal ini mengingat ada pilgub besar, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang PDIP tak ingin kembali mengalami kekalahan.

"Tentu setiap kekalahan harus selalu diwaspadai dan dievaluasi untuk perbaikan ke depan," kata Andreas melalui pesan singkatnya pada Jumat (21/4).

Ia menilai, tiap pilkada mempunyai tantangan dan karakter yang berbeda, begitu halnya antara Pilkada DKI dengan pemilihan presiden. Menurut dia, perbedaan itu dari mulai karakter baik segi luas cakupan isu dan juga tantangan di masing-masing pilkada.

Namun, dari aspek kerja partai, ia mengklaim PDIP telah bekerja secara maksimal. Hal itu tampak dari sejumlah survei yang memperlihatkan lebih dari 90 persen pemilih PDIP memilih pasangan Ahok-Djarot.

Ia mengatakan, kekalahan yang menimpa pasangan calon Ahok-Djarot karena beberapa faktor lain di antaranya soal mesin partai dan figur. "Cuma dari aspek figur harus klop akseptabilitas publik. Karena soal pilkada ada dua aspek utama, mesin partai dan figur," katanya.

Selain itu, anggota Komisi I DPR RI tersebut menilai aspek terpenting lainnya yakni terkait pengelolaan isu, manajemen kampanye, dan pengamanan suara yang juga menentukan faktor kemenangan pilkada. Karena itu, figur nantinya juga yang akan dipertimbangkan secara matang oleh PDIP di pilkada 2018 mendatang. "Figur juga dukungan partai, manajemen kampanye, isu, banyak aspek," kata Andreas.