Jumat , 21 April 2017, 21:33 WIB

Klarifikasi Anies Soal Naik Helikopter ke Balai Kota

Rep: Mas Alamil Huda/ Red: Teguh Firmansyah
Republika/ Wihdan
Cagub DKI Jakarta Anies (kiri) Baswedan berjabat tangan dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (20/4).
Cagub DKI Jakarta Anies (kiri) Baswedan berjabat tangan dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (20/4).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Calon gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengaku menggunakan helikopter saat menemui Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Balai Kota, Jakarta, Kamis (20/4) pagi. Hal itu agar ia bisa mengejar waktu yang disepakati karena Ahok akan bertolak ke persidangan.

"Saya menghormati waktu yang disediakan oleh Pak Basuki yaitu jam 07.45 di Balai Kota, padahal saya ada kegiatan lain sebelumnya. Kami tidak bisa terlambat karena jam 08.15 pagi beliau sudah harus berangkat dari Balai Kota ke pengadilan untuk menghadiri persidangan," kata dia, Jumat (21/4).

Anies mengatakan, helikopter yang digunakan adalah milik keponakan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Erwin Aksa. Erwin meminjamkan helikopter milik perusahaannya itu untuk mengejar waktu agar tidak terlambat bertemu Ahok.

Erwin Aksa diketahui turut menemani Anies ke Balai Kota saat itu. Anies pun tiba di Balai Kota pukul 07.44 atau satu menit sebelum jadwal.

"Sebelum itu ada kegiatan yang tidak bisa digeser waktu dan lokasinya. Sehingga Pak Erwin Aksa meminjamkan helikopter milik perusahaannya agar tetap bisa menemui Pak Basuki sesuai waktu yang disediakan beliau. Bahkan itupun sampai di Balai Kota sudah mepet, hampir jam 07.45," ujar dia.

Semua itu, menurut Anies, ditempuh untuk menghormati waktu Ahok. "Yang terpenting, pertemuan dengan Pak Basuki tidak terlambat di waktu yang amat sempit itu," katanya.

Anies mengatakan, topik pokok pembicaraan dengan Ahok saat bertemu di Balai Kota salah satunya terkait rekonsiliasi atau menyatukan kembali bagian yang terpolarisasi akibat kontestasi DKI. Mereka sepakat untuk kembali bersatu membangun Jakarta. Rekonsiliasi harus terjadi di kedua kubu, dari elite, calon, tim pemenangan hingga pendukung di akar rumput.

Baca juga,  Anies-Sandi Unggul di Semua Lembaga Survei Ternama.