Ahad , 20 August 2017, 10:03 WIB

Dukungan Golkar Gerus Elektabilitas Jokowi

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Indira Rezkisari
Antara/Andika Wahyu
Joko Widodo
Joko Widodo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Promosi partai Golkar yang akan membuat elektabilitas Presiden Joko Widodo naik menjadi 65 persen dianggap rasional tapi fiksi. Bukannya naik, elektabilitas Jokowi malah turun setelah ia didukung oleh partai berlambang pohon beringin itu.

"Yang terjadi justru sebaliknya. Sebelum Gollar dukung Jokowi, elektabilitasnya di atas 50 persen. Tapi setelahnya, menurut survei SMRC, elektabilitas Jokowi pada Juni 2017 adalah 34 persen. Litbang Kompas, elektabilitasnya pada April 2017 hanya 42,6 persen," ujar pengamat politik dari Network for South East Asian Studies (NSEAS) Muchtar Effendi Harahap dalam keterangan tertulisnya, Ahad (20/8).

Meski begitu, Muchtar mengatakan, apa yang dijual oleh Golkar kepada Jokowi yang sedang menjabat itu wajar saja. Namun, hingga saat ini dianggap oleh Muchtar hal itu masih fiksi dengan data yang telah ia sebutkan tadi.

"Padahal kalau mau menang, sebagai Capres Petahana pada Pilpres 2019, Jokowi harus memiliki tingkat elektabilitas di atas 60 persen. Lalu angka 65 persen yang diklaim Golkar (itu) rasional tapi masih fiksi," tambah dia.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar Idrus Marham yakin keberadaan partainya dalam koalisi bersama PDI Perjuangan dapat menjamin suara Jokowi dalan Pilpres 2019 semakin kuat. Ia juga memastikan, suara Jokowi dalam Pilpres 2019 mendatang akan lebih dari 65 persen.

Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto juga menyatakan, ada tiga alasan partainya mendukung Joko Widodo pada Pilpres 2019 mendatang.  Pertama, visi kesejahteraan 2045 Partai Golkar memiliki kesamaan dengan program Nawacita Jokowi. Kedua kesamaan program pembangunan ekonomi.

"Ketiga, Pak Jokowi merupakan figur yang paling populer dan disukai rakyat. Sedangkan prinsip Partai Golkar adalah suara Golkar suara rakyat," kata Novanto dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/8).