Sabtu , 23 September 2017, 00:06 WIB

Pengamat: Golkar Rugi Jika tak Mengusung Dedi Mulyadi

Rep: Ita Nina Winarsih/ Red: Andi Nur Aminah
Republika/Mardiah
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi (kiri) dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (kanan)
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi (kiri) dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (kanan)

REPUBLIKA.CO.ID, PURWAKARTA -- Direktur Indonesia Political Review, Ujang Komarudin, menyebut Partai Golkar akan rugi jika tak mengusung Dedi Mulyadi pada Pilgub Jabar 2018. Bahkan akan menjadi friksi di dalam internal partai tersebut. Mengingat, sampai saat ini internal di Golkar Jabar sangat solid dan loyal dalam mendukung Bupati Purwakarta tersebut.

"Jika surat DPP yang membuat heboh ini, benar. Maka Golkar akan merugi. Sebab, ini akan menimbulkan friksi internal partai," ujar Ujang, kepada Republika.co.id, Jumat (22/9).

Ujang mengatakan, Dedi Mulyadi merupakan kader Golkar. Dedi juga merintis karir politiknya, hingga kini menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Jabar. Berbeda dengan Ridwan Kamil (Emil), Wali Kota Bandung yang bukan kader partai. Sehingga, bila Golkar mengusung Emil meskipun elektabilitasnya tertinggi, jelas bisa menyebabkan konflik di tubuh partai ini.

Selain menimbulkan friksi, Golkar juga bisa kehilangan kader militannya. Sebab, lanjut dosen Ilmu Politik Universitas Al Azhar Indonesia ini, Dedi merintis politiknya dari partai berlambang pohon beringin itu. Bisa jadi, nanti masalahnya akan terbentuk dua kubu. Yang pro terhadap Dedi Mulyadi maupun yang kontra.

"Kalau Dedi Mulyadi mundur atau dimundurkan dari Golkar, maka yang lain pasti akan mengikutinya. Ini bisa jadi masalah serius bagi partai itu," ujarnya.

Ujang menambahkan, dalam politik memang apa pun bisa terjadi. Bahkan, bila surat rekomendasi Golkar yang mendukung Emil itu benar, berarti partai itu telah mendzalimi kadernya sendiri. Padahal, saat ini trend survei terhadap Dedi Mulyadi terus merangkak naik.