Sabtu , 23 September 2017, 18:21 WIB

Bekas Markas CC PKI Kini Bak Gedung Berhantu

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Teguh Firmansyah
Rahma Sulistya.
Bekas kantor CC PKI di Jalan Kramat Raya yang sudah tak terurus.
Bekas kantor CC PKI di Jalan Kramat Raya yang sudah tak terurus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gedung di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, bekas Kantor CC PKI, teronggok tak terurus.  Jika boleh mengutip kata-kata Alm Sutan Batugana 'ngeri-ngeri sedap'. Bak gedung berhantu, masyarakat setempat sudah tak tahu-menahu nasib gedung itu, seolah enggan mengungkap.

Menapaki sebuah gang kecil, Gang Kramat Lontar, di samping gedung yang sudah diberi tanda milik PT Krida. Republika.co.id menjumpai salah seorang warga RW 07, Kelurahan Paseban, Kecamatan Senen, Haris (64) yang sedikit menuturkan ceritanya. 

"Dulu itu memang kantor PKI, rumah-rumah di sini juga banyak kok yang anggota PKI. Saya lahir di sini, tapi waktu itu saya belum paham betul dengan PKI. Yang saya tahu, rumah itu (menunjuk salah satu rumah berpagar hijau dan kosong), dulu tempat anggota perempuannya. Apa namanya tuh? Ya Gerwani," ujar dia sedikit memberikan informasi, saat ditemui Sabtu (23/9) pukul 14.30 WIB.

Haris membenarkan ada kejadian pembakaran bekas Kantor CC PKI itu. Namun ia ragu siapa yang membakarnya. "Pokoknya dulu itu ramai memang ada bakar-bakar gedung. Tetapi saya tidak tahu siapa yang bakar. Gedung itu banyak iblis, hii... Kalau mau tahu lebih pasti tanya Pak RW," ujar Haris sambil meringis memasang wajah ngerinya.

Sekitar 500 meter dari depan gang masuk Gang Kramat Lontar, Republika.co.id akhirnya menjumpai Ketua RW 01, Kelurahan Paseban, Syamsu Rizal yang sedang bersama istri dan ditemani dua adik iparnya. Keluarga itu menyambut hangat dan ramah kepada wartawan Republika.co.id. Terlebih mereka merupakan pelanggan setia koran Republika sejak ICMI masih aktif.

Menurut penurutan Syamsu Rizal,  Bekas Gedung CC PKI sempat dibangun kembali usai pembakaran pada kejadian 30 September 1965. Gedung dibangun menjadi kantor pemerintahan. Mereka tidak mengingat betul apakah itu untuk Departemen Penerangan, Pariwisata, atau Kemaritiman.

"Itu dulu pada 1970-an pernah dipakai kantor apa gitu saya lupa. Dan sekitar tahun 1992 atau 1995 sudah seperti itu, didiamkan kosong. Saya malah tidak tahu itu pernah dibakar ya, karena saya lahir pada 1966," ujar Syamsu.

Keluarganya yang sedang berkumpul juga tak banyak yang mengetahui tentang keberadaan PKI di lingkungannya.

Namun tidak hanya Syamsu, Azizah (57) salah seorang adik iparnya, ikut angkat bicara dan menjelaskan bagaimana ayahnya, Muhammad Solihin, merupakan sosok yang dekat dengan Soekarno jauh sebelum kejadian G30S/PKI. Saking dekatnya, Solihin dengan mudah keluar masuk istana menemui Bung Karno, kadang membawa Azizah dan kakak-kakaknya ke istana.

"Dulu ayah saya punya buku Bung Karno yang judulnya 'Penyambung Lidah Rakyat' dan ditandatangani langsung oleh Bung Karno. Bahkan, waktu Konferensi Meja Bundar, ayah kami ikut serta juga, tapi dibalik layar. Pokoknya ayah saya dekat dengan Soekarno," ujar Azizah.