Rabu , 04 October 2017, 06:14 WIB

Pengamat Nilai Novanto Turunkan Elektabilitas Golkar

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Dwi Murdaningsih
ANTARA
Pengunjuk rasa membawa poster Ketua DPR Setya Novanto saat aksi di depan gedung KPK, Jakarta, Kamis (7/9).
Pengunjuk rasa membawa poster Ketua DPR Setya Novanto saat aksi di depan gedung KPK, Jakarta, Kamis (7/9).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Internal Partai Golkar mulai bergejolak pasca keluarnya rekomendasi yang menginginkan Ketua Umum PG Setya Novanto nonaktif dan menunjuk pelaksana tugas ketua umum. Namun bukannya terlaksana, tim yang mengeluarkan rekomendasi tersebut yakni Koordinator Bidang Polhukam DPP PG Yorrys Raweyai justru dicopot dari jabatannya oleh Novanto, belum ada 24 jam pasca kepulangannya dari RS Premier Jatinegara.

Hal ini pun menimbulkan dinamika di internal Partai Golkar kembali menyeruak ke permukaan dan mengancam soliditas partai berlambang pohon beringin tersebut. Namun Pengamat Politik dari Universitas Paramadina Toto Sugiarto justru menilai munculnya dinamika di internal PG saat ini baik untuk partai yang identik dengan warna kuning tersebut.
 
"Saya kira itu justru baik untuk menggemburkan demokrasi di Golkar," ujar Toto saat dihubungi pada Selasa (3/10) malam.
 
Terlebih kata dia, menjelang tahun politik yakni Pilkada 2018 dan Pemilu 2019. Ia juga meyakini, keberadaan faksi-faksi baru di internal PG juga juatru membuat seleksi alam di PG terjadi.
 
"Menurut saya justru malah baik buat Golkar karna nanti akan ada seleksi alam dan muncul tokoh yang bisa membesarkan Golkar. Kalau Setnov makin kuat, di Golkar kuat tapi di mata rakyat golkar akan semakin lemah," ujarnya.
 
Sebab, jika Novanto tetap menjadi ketua umum Golkar menurutnya justru tidak berdampak baik bagi Golkar sendiri, khususnya di mata masyarakat. Hal ini meskipun Novanto telah gugur status tersangkanya, namun publik telah melihat Novanto secara negatif.
 
"Banyak yang mencibir di netizen. itu tanda Setnov itu beban bagi Golkar dan kalau Setnov tetap disana malah bisa-bisa makin menurunkan elektabilitas PG," ujarnya.
 
Hal ini menurutnya karena Novanto memiliki beban masa lalu yang tidak baik khususnya terkait kasus hukumnya. Karena itu, keputusan untuk mempertahankan Novanto adalah tantangan besar untuk meraih kembali simpati publik. Namun kata dia, sekalipun gejolak telah muncul Toto meyakini sulit menyebabkan perpecahan di internal Golkar.
 
"Kalau Golkar nggak ada terpecah menurut sejarah. biasanya yang kalah yang akan terpental. Golkar menurut pengalaman itu tidak mungkin pecah dan akan solid kembali," katanya.