Kamis , 05 Oktober 2017, 13:40 WIB

Din: Panglima TNI Gatot tak Berpolitik Praktis

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Andi Nur Aminah
ROL/Fakhtar K Lubis
Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin
Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin berpandangan figur kepemimpinan Panglima TNI sekarang ini, Gatot Nurmantyo, cukup bagus. Paling tidak, meski tidak dekat dalam bentuk tatap muka, Gatot dalam sikapnya memberikan pembelaan proporsional terhadap ulama dan kepentingan umat Islam dalam rangka kepentingan nasional.

"Saya kira figur-figur ke depan diharapkan harus seperti itu, siapapun yang memimpin TNI. Tentu juga dengan umat-umat agama lain," ujar Din yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), kepada Republika.co.id, Kamis (5/10).

Din juga tidak sepakat dengan tudingan bahwa Panglima Gatot berpolitik praktis. Menurutnya, apa yang dilakukan Panglima TNI Gatot selama ini tidak menyimpang. Sebab, apa yang dilakukan Gatot adalah bagian dari politik kebangsaan dan kenegaraan yang juga harus dilakukan semua lapisan masyarakat.

TNI, diakui Din, memang tidak boleh berpolitik praktis. "Namun saya melihat apa yang dilakukan Panglima tidak menyimpang dari prinsip tadi, melakukan politik kebangsaan dan kenegaraan, walaupun dituduh melakukan politik praktis, saya kira tidak demikian, saya kira itu proporsional," tutur dia.

Bahkan, menurut Din, apa yang dilakukan Panglima Gatot saat ini masih kurang. Ada hal-hal yang menurutnya masih diabaikan dalam rangka politik kebangsaan dan kenegaraan. Misalnya, dalam pemberantasan terorisme. TNI semestinya diikutsertakan dalam memberantas itu.

"Elemen TNI seperti Kopassus, Kostrad, itu kan memiliki divisi kontra teror, yang saya kira jauh lebih canggih dari Polri. Maka kenapa tidak dilibatkan," tutur dia.