Jumat , 06 October 2017, 13:15 WIB

Idrus: Dipimpin Setya Novanto, Golkar Tetap Pede

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Bilal Ramadhan
Republika/Prayogi
Ketua DPR Setya Novanto didampingi Sekjen Partai Golkar Idrus Marham berjalan usai memenuhi panggilan KPK di gedung KPK, Jakarta, Jumat (14/7).
Ketua DPR Setya Novanto didampingi Sekjen Partai Golkar Idrus Marham berjalan usai memenuhi panggilan KPK di gedung KPK, Jakarta, Jumat (14/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Idrus Marham mengungkap keyakinan Partai Golkar tetap dipimpin Setya Novanto. Hal ini menyusul  kembali aktifnya Setya Novanto sebagai ketua umum setelah sakit selama beberapa pekan dan telah gugurnya status tersangka Novanto pasca dikabulkannya gugatan praperadilan Novanto.

Idrus menegaskan tidak perlu lagi upaya untuk menggoyang Novanto dari kursi ketua umum paryai berlambang pohon beringin tersebut. Meskipun sebelumnya, Novanto kerap dikait-kaitkan dalam kasus dugaan korupsi.

"Kita percaya pada proses yang ada. Kita percaya pada keputusan golkar. Munaslub sudah memilih Pak Novanto," ujar Idrus saat ditemui wartawan di Hotel Sultan, Jakarta pada Kamis (5/10).

Ia juga tidak khawatir jika keputusan tersebut nantinya berdampak pada elektabilitas Partai Golkar. Ia meyakini, hal tersebut tidak akan membuat elektabilitas Golkar menurut. Meskipun kenyataannya di berbagai survei menyebut elektabilitas Partai Golkar terus menurun.

"Kan itu kata elo. Kita liat semua. Kita percaya teman-teman juga kan pasti melihat. Jadi kita tidak bisa mengambil satu, menjustifikasi. Yanf pasti secara formal sekarang ini Novanto sudah kembali memimpin partai ini setelah sakit, istirahat dan sudah menyatakan siap, ya sudah," ujarnya.

Idrus Marham yang menyebut tidak perlu lagi dilakukan rapat pleno DPP membahas pergantian ketua umum. "Tidak ada (rapat pleno), itu sudah selesai. ini sudah selesai semua," ujar Idrus usai memimpin rapat persiapan Rakernas Partai Golkar di Hotel Sultan, Jakarta pada Kamis (5/10) malam.

Ia menganggap selesai hasil kajian elektabilitas Partai Golkar dan tidak perlu ditindaklanjuti.  Ia beralasan, karena hasil rekomendasi tersebut belum tuntas dan hanya berbasis hasil survei pihak eksternal Partai Golkar. Seharusnya kata Idrus, hasil rekomendasi juga dilakukan secara mandiri oleh Partai Golkar.

"Mestinya dilakukan tapi kemaren belum sehingga dengan demikian itu sudah kita anggap selesai, kita tidak tindaklanjuti ya," kata Idrus.

Karenanya, perdebatan soal pergantian Novanto dari kursi ketua umum tidak perlu dilanjutkan kembali. Apalagi usai keluar dari rumah sakit, Novanto telah memberi memo kepada dirinya untuk kembali aktif sebagai ketua umum.

"Jadi SN (Setua Novanto) kembali memimpin dan juga sudah mengeluarkan memo kepada saya bahwa beliau akan kembali memimpin setelah sakit kemaren dan aktif sebagai Ketum DPP Golkar," ungkap Idrus.