Sabtu , 07 October 2017, 11:19 WIB

Fadli Zon: Elektabilitas Jokowi Masih Tergolong Rendah

Rep: Dian Erika N/ Red: Andri Saubani
Antara/Rosa Panggabean
Presiden Joko Widodo.
Presiden Joko Widodo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, menilai, capaian elektabilitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) berdasarkan hasil survei terbaru masih tergolong rendah sebagai pejawat. Menurutnya, hasil survei tersebut menunjukkan masyarakat butuh pemimpin baru.

"Untuk seorang pejawat, capaian elektabilitas Jokowi yang masih berada pada kisaran 30-an persen ke atas itu tergolong rendah jika dibandingkan dengan perolehan elektabilitas pemimpin pejawat di negara-negara lain yang rata-rata mencapai 60-an persen," ujar Fadli dalam diskusi di Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/10).

Dia mencontohkan elektabilitas Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte yang rata-rata mencapai 60 persen. Capaian ini, kata Fadli, menunjukkan bahwa, masyarakat tidak cukup puas dengan Jokowi. "Rakyat ingin pemimpin baru," tutur dia.

Sementara itu, menanggapi hasil elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, Fadli merasa optimistis. Sebab, lanjutnya, nama Prabowo selalu masuk dalam dua besar di sejumlah survei. "Kami optimis dukung beliau untuk menjadi capres Pemilu 2019 dan kami tidak khawatir dengan capaian elektabilitas Prabowo sebesar 12 persen," tambah Fadli.

Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Djayadi Hanan, mengatakan, Presiden Jokowi dan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, masih menjadi dua nama paling potensial dalam bursa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Persentase dukungan terhadap dua figur ini jauh melampaui tokoh-tokoh lain.

Djayadi menuturkan, jika pilpres digelar saat survei, maka kecenderungan nama yang pertama muncul dalam pikiran responden (top of mind) adalah Jokowi (39 persen), Prabowo (12 persen) dan Susilo Bambang Yudhoyono (1,6 persen). "Dukungan terhadap nama-nama lain (Anies Baswedan, Surya Paloh, Harry Tanoesoedibyo) di bawah satu persen," ujar Djayadi dalam konferensi pers di Kantor SMRC, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (5/10).


Berita Terkait