Sabtu , 07 October 2017, 20:10 WIB

Gus Ipul: Tugas Bangsa Indonesia Merawat Kebinekaan

Red: Teguh Firmansyah
Republika/Heri Purwata
Wakil Gubernur Jawa Timur, H Syaifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul.
Wakil Gubernur Jawa Timur, H Syaifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Saifullah mengajak masyarakatnya untuk merawat nilai kebinekaan. Sebab, kemajemukan dan kebhinekaan yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan anugerah Tuhan yang harus disyukuri dan dijaga.

"Saat ini, tugas bangsa Indonesia bukan lagi memperjuangkan kebinekaan tetapi merawatnya. Kebutuhan merawat kebinekaan menjadi sangat penting, karena tantangan dan dinamika saat ini semakin kuat ke depannya, kata pria yang biasa dipanggil Gus Ipul ini melalui keterangan resmi yang diterima Republika.co.id,Sabtu (7/10).

Menurut Gus Ipul, tantangan dan dinamika yang dihadapi bangsa Indonesia ini tidak main-main. Terdapat tiga dinamika yang dinilainya sangat menantang seperti pilihan sejarah untuk menjalani demokrasi dengan menghasilkan dinamika kebangsaan yang unik.

Dengan berdemokrasi, dia melanjutkan, kebebasan, partisipasi dan kompetisi akan berkembang meski konsekuensinya perjalanan kebangsaan selalu ditandai dengan kegaduhan. "Kegaduhan itu bukan penyakit tapi harus dikelola," terang Gus Ipul.

Selanjutnya, dinamika adanya penegasan identitas kelompok pada suatu bangsa. Dalam demokrasi, semua pihak memiliki peluang untuk mengartikulasikan diri secara leluasa. Demokrasi membuat hubungan antar golongan atau antar kelompok menjadi lebih dinamis sekaligus mengundang potensi ketegangan dan konflik.

Melihat situasi itu, dia menilai, potensi konflik ini harus dijadikan energi positif untuk saling bersatu. Hal ini karena jenis dinamika tersebut bisa menimbulkan sikap saling bermusuhan dan intoleran yang ujungnya bisa menimbulkan perpecahan.

Sementara ketiga, Gus Ipul melanjutkan, terkait dalam setiap bangsa yang berdemokrasi akan selalu ada kompetisi, di mana ada yang menang dan kalah. Menurut dia, hal ini jelas mempunyai konsekuensi serius jika tidak terkelola dengan baik.

Dalam demokrasi, selalu ada potensi pemenang mengabaikan bahkan menyingkirkan yang kalah. Di sisi lain, tambah dia, yang kalah tak mau berbesar hati menerima kemenangan pihak lain sehingga terus-menerus mengganggu kelangsungan harmoni

Ketiga dinamika kebangsaan itu, lanjut Gus Ipul, sangat terasa hari-hari ini. Bila hal ini dibiarkan, Indonesia dalam ancaman bahaya yang tidak main-main. Untuk itu, dia menilai, menjadi kewajiban bersama tanpa kecuali untuk membuat Indonesia menang menghadapi ancaman bahaya itu. "Kita harus menangkan demokrasi sekaligus memenangkan Indonesia," tegasnya.

Berita Terkait