Rabu , 11 October 2017, 04:40 WIB

Awalnya Hanya Senjata Kejut, Ternyata Ada Amunisi Mematikan

Red: Teguh Firmansyah
dok. Puspen TNI
Kapuspen TNI Mayjen TNI Wuryanto, S.Sos., M.Si menggelar jumpa pers dengan media massa di Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat, Selasa (10/10).
Kapuspen TNI Mayjen TNI Wuryanto, S.Sos., M.Si menggelar jumpa pers dengan media massa di Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat, Selasa (10/10).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kisruh impor senjata Polri belum juga selesai. Pernyataan Kapuspen TNI tentang spesifikasi amunisi yang diimpor polisi, seolah menegasikan pernyataan Polri sebelumnya.

Pada 30 September, setelah beredarnya informasi senjata impor tertahan di bandara, polisi langsung menggelar konferensi pers. Polisi menekankan berulangkali bahwa senjata yang diimpor hanyalah senjata kejut, bukan untuk membunuh. 

"Jadi ini bukan senjata antitank, senjata ini bukan untuk membunuh, ini untuk kejut," ujar Dankor Brimob Polri Irjen Murad Ismail  di Mabes Polri saat itu.

Ia pun dengan gamblang menerangkan cara kerja senjata Stand Alone Grenade Launcher. Senjata tersebut memiliki peluru bulat dengan pelbagai jenis seperti peluru karet, peluru hampa, peluru gas, air mata, dan peluru asap.

"Kalau mendengar mendengar nama arsenal Stand Alone Grenade Launcher itu kesannya luar biasa. Padahal, cara kerjanya itu (ketika) kita menembak lurus 45 derajat jatuh setelah 45 meter, dan pelurunya itu bulat ada banyak, ada peluru karet ada peluru hampa dan ada peluru gas air mata dan peluru asap ada juga peluru yang menimbulkan ledakan namun kabut," kata Murad.

Senjata ini, dia menerangkan, pernah digunakan pada 1998 namun saat ini berbeda model dan memiliki generasi yang terbaru. Kendati demikian, apabila diarahkan pada tembok, peluru tidak akan menghancurkan namun justru jatuh ke bawah.

"Ini peluru-peluru ini kalau kita tembakkan lurus, jatuh ke bawah dan menembus rumah saja tidak mungkin, jadi ini bukan untuk senjata antitank dan sebagainya," terang Murad.

Namun Murad tak menjelaskan secara detil tentang spesifikasi amunisi yang juga diimpor. Barulah pada Selasa (10/10), Kapuspen TNI secara blak-blakan berbicara mengenai amunisi tersebut.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Wuryanto mengakui amunisi pesanan Polri yang diperuntukkan Brimob berdampak mematikan.  "Sesuai katalog ada 5.932 butir dalam 71 koli, itu disertai dengan katalog. Di situ sangat jelas dalam katalog itu bahwa amunisi itu adalah amunisi tajam, mempunyai radius mematikan 9 meter dan jarak capai 400 meter," kata Wiryanto di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Selasa (10/10).

Wuryanto memaparkan keistimewaan amunisi ini. Setelah meledak pertama, kemudian meledak kedua, efek amunisi dapat menimbulkan pecahan-pecahan, lubang-lubang kecil yang melukai maupun mematikan. Granat bisa meledak sendiri tanpa benturan setelah 14-19 detik lepas dari laras. "Ini luar biasa. TNI saja tidak punya senjata seperti itu," lanjutnya.

Seperti diketahui senjata Arsenal Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) Kal 40 x 46 milimeter sebanyak 280 pucuk lengkap dengan 5.932 butir peluru masuk ke Bandara Soekarno Hatta pada Jumat (29/9) malam.

Polri mengakui bahwa senjata-senjata itu adalah milik Polri yang dikirim menggunakan maskapai asal Ukraina dan diimpor oleh PT Mustika Duta Mas Senjata itu, dibeli melalui mekanisme lelang sesuai dengan ketentuan pengadaan barang dan jasa.

Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Nasdem, Supiadin Aries  Saputra mengatakan Polri boleh memiliki senjata dan menggunakan senjata standar militer, tapi ada aturannya.

"Kalau di Amerika tim SWAT, mereka adalah polisi yang memiliki keahlian khusus dan hanya digunakan untuk menghadapi kriminalitas dengan intensitas tinggi dan itu polisi tapi kekuatannya tidak besar mereka. Karena namanya pasukan khusus," ujarnya kemarin.



Berita Terkait