Kamis , 12 Oktober 2017, 14:29 WIB

Indikator: Gatot Berpotensi Gerus Elektabilitas Prabowo

Rep: Kabul Astuti/ Red: Andri Saubani
ist
Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, bersama ribuan prajurit TNI-Polri dan masyarakat menggelar acara 'Istigasah dan Doa Keselamatan Bangsa' di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Jumat (18/11).
Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, bersama ribuan prajurit TNI-Polri dan masyarakat menggelar acara 'Istigasah dan Doa Keselamatan Bangsa' di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Jumat (18/11).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo muncul di bursa pemilihan calon presiden 2019, dalam survei yang diadakan oleh Indikator Politik Indonesia. Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan, naiknya elektabilitas Gatot Nurmantyo berpotensi menggerus perolehan suara Prabowo Subianto.

Penyebabnya, basis pemilih Prabowo dan Gatot hampir mirip. Burhanuddin melihat manuver-manuver yang dilakukan Gatot Nurmantyo belakangan ini untuk meningkatkan tingkat kedikenalannya di tengah masyarakat. "Orang tidak mungkin milih kalau tidak kenal. Kalau tingkat kedikenalan naik, kemungkinan elektabilitas naik," kata Burhanuddin Muhtadi, di Kantor Indikator, Rabu (11/10).

Sampai 24 September 2017, survei Indikator mencatat elektabilitas Gatot masih di bawah Anies Baswedan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), atau tersangka kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sekalipun. Tidak heran, karena ketiga nama itu telah memperoleh publikasi gratis selama Pilkada DKI Jakarta.

Burhanuddin mengatakan, naiknya elektabilitas Gatot Nurmantyo berpotensi menggerus basis massa Prabowo. Dibanding Jokowi, elektabilitas Prabowo paling potensial terganggu. Dari sisi partai, pemilih PDIP, Nasdem, dan PKB sudah solid mendukung Jokowi. Gerindra juga paling solid mendukung Prabowo.

Sementara, pemilih PKS, Demokrat, dan PPP cenderung memilih di luar nama ini. Menurut Burhannuddin, basis massa PKS dan Demokrat kecenderungannya sedang mencari-cari figur alternatif di luar dua nama itu. Pemilih PKS yang pada Pilpres 2014 cenderung mendukung Prabowo, sekarang sebagian besar tidak memilih Prabowo. Mereka melarikan suaranya ke nama-nama alternatif, seperti Anies Baswedan dan Gatot Nurmantyo.

"Jadi yang paling potensial dirugikan secara elektoral sebenarnya Pak Prabowo. Ini kemudian menjelaskan mengapa Pak Jokowi hubungannya masih baik sama Pak Gatot. Karena dia tahu Pak Gatot ini bisa menjadi senjata rahasia untuk memenangkan 2019," kata Burhan.

Survei Indikator Politik Indonesia menemukan tingkat elektabilitas Jokowi dalam simulasi terbuka sebesar 34,2 persen disusul Prabowo 11,5 persen. Gatot Nurmanyo memperoleh angka 0,7 persen. Nama lainnya yang masuk sepuluh besar adalah SBY, Hari Tanoe, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), AHY, dan Anies Baswedan.