Jumat , 13 October 2017, 14:46 WIB

Panglima TNI, Jadi Capres Alternatif atau Cawapres Jokowi?

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Bilal Ramadhan
Antara/Indrianto Eko Suwarso
  Panglima TNI Jenderal (TNI) Gatot Nurmantyo
Panglima TNI Jenderal (TNI) Gatot Nurmantyo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo kini menjadi pembicaraan banyak orang. Sejumlah partai politik pun dikabarkan mulai melirik Gatot untuk diusung menjadi calon presiden alternatif di Pilpres 2019.

“Jenderal Gatot berpeluang jadi calon presiden yang santer menjadi perbincangan publik selain nama Jokowi dan Prabowo,” kata pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, Jumat (13/10).

Namun dengan UU Pemilu yang mensyaratkan calon presiden harus mengantongi 20 persen dukungan di kursi legislatif, pengusungan Gatot harus menghitung ulang kembali. Seperti yang kita tahu, Presiden Jokowi sudah memborong dukungan dari PDIP, Golkar, Nasdem dan terakhir Hanura yang mengumumkan dukungannya kepada Jokowi saat mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Kamis (12/10) lalu. Sedangkan dua anggota koalisi lainnya, yaitu PKB dan PPP hanya tinggal menunggu waktu untuk mendeklarasikan dukungannya kepada Jokowi.

Sementara itu, Partai Gerindra masih ‘keukeuh’ untuk mengusung Prabowo. Sedangkan Demokrat sepertinya juga masih akan memaksakan putra Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk maju di Pilpres 2019. Dua tokoh ini berasal dari militer, dan tentunya berpasangan dengan Gatot tidak akan berhasil, karena ada kecenderungan capres militer akan menggandeng tokoh sipil sebagai pasangannya.

Prabowo dan Gatot juga sangat sulit dipasangkan di Pilpres 2019. Selain karena bukan kombinasi pasangan yang ideal karena militer-militer, segmen pemilih Prabowo beririsan alias memiliki kemiripan dengan ceruk segmen preferensi Gatot.

Sebaliknya segmen pemilih ceruk Jokowi berbeda dengan Gatot, buktinya ketika citra dan elektabilitas Gatot mulai menanjak, malah menganggu segmen pemilih Prabowo dan tidak mengurangi elektabilitas Jokowi. Itu artinya, basis pemilih Gatot sama dengan segmen Prabowo yaitu basis fundamental kanan.

“Jika Gatot menjadi cawapres mendampingi Jokowi memang sangat memungkinkan terjadi di Pilpres 2019. Apalagi kombinasi sipil-militer akan sangat menarik dan dipilih publik. Gatot juga bisa menarik segmen pemilih kanan, basis suara umat mayoritas, sementara Jokowi tetap fokus jadi penjaga gawang (gate keeper) menggarap segmen nasionalis sekuler,” ujarnya.

Namun persoalannya kemudian apakah ada jaminan bahwa pemilih Gatot dari segmen kanan atau tengah bakal mantap (strong voter) memilih pasangan Jokowi-Gatot? Belum ada jaminan Gatot sukses menarik segmen pemilih kanan.

“Kita tahu basis pemilih Gatot adalah anti pemerintah (oposisi), anti tesis pemerintahan Jokowi, konsisten mengkritik rezim dan mereka biasanya memilih ‘asal jangan Jokowi’. Gatot bagus dengan elektabilitasnya sendiri, Apabila digabungkan belum tentu,” jelas lulusan S2 di Jurusan Politik Universitas Indonesia (UI) ini.

Dua partai tersisa, yaitu PKS dan PAN ada kemungkinan besar untuk mengusung Gatot, namun koalisi ini masih kurang untuk memenuhi presidential treshold (PT) sebanyak 20 persen. Koalisi ini tentunya harus bisa ‘merayu’ baik Gerindra maupun Demokrat untuk bersatu di Pilpres 2019.

“Ke depan masih ada peluang terjadi pertumbuhan elektoral Gatot. Sebaliknya, elektabilitas Prabowo cenderung mengalami stagnan atau bahkan menurun. Dalam kondisi seperti itu, masih memungkinkan kuda hitam menjadi pemenang pilpres. Hasil beberapa lembaga survei, 51 persen masyarakat masih mendambakan figur alternatif baru selain Jokowi, Prabowo dan (trah) SBY,” tegasnya.