Jumat , 13 Oktober 2017, 18:19 WIB

Dibanding Ahok, Gatot Dinilai Lebih Pas Dampingi Jokowi

Rep: Kabul Astuti/ Red: Teguh Firmansyah
Antara/Indrianto Eko Suwarso
  Panglima TNI Jenderal (TNI) Gatot Nurmantyo
Panglima TNI Jenderal (TNI) Gatot Nurmantyo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Panglima TNI Gatot Nurmantyo dinilai berpotensi mendampingi Jokowi di Pilpres 2019. Direktur Eksekutif lembaga survei Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengungkapkan dari sisi basis massa dan ideologi politik, Jokowi dan Gatot bersifat komplementer.

"Dari sisi kalkulasi baik elite maupun politik aliran, maupun dari sisi massa sebenarnya Gatot paling punya sumbangan secara elektoral jika bergabung dengan Jokowi. Karena komplementer," kata Burhanuddin Muhtadi di Cikini, Jakarta Pusat.

Burhan memaparkan pendukung Gatot Nurmantyo rata-rata masih muda, Islam modernis, dan cukup kuat basisnya di Sumatera-Jawa Barat. Kebetulan, Jokowi lemah di Sumatera. Basis massa Jokowi relatif berbeda dengan basis massa yang memilih Gatot Nurmantyo. Ada banyak irisan yang membuat kedua sosok ini bisa menjadi pasangan yang saling melengkapi.

Hasil survei Indikator Politik Indonesia menyebutkan, di antara tiga nama tokoh, Gatot Nurmantyo (25 persen) dan Sri Mulyani (24 persen) lebih diunggulkan sebagai tokoh yang paling pantas mendampingi Jokowi di Pilpres 2019. Elektabilitas Ahok juga masih cukup tinggi, tapi angkanya relatif tak bertambah.

"Makanya itu menjelaskan mengapa Gatot sejauh ini ya masih aman-aman saja meskipun banyak komentarnya yang oleh elite pendukung Jokowi dianggap offside. Tapi dia masih aman-aman saja. Mungkin Jokowi merasa Gatot bisa menjadi pelengkap di 2019 nanti," kata Burhan.

Tidak menutup kemungkinan, Gatot Nurmantyo juga dapat digandeng oleh Prabowo. Burhan menilai skenario ini bisa saja terjadi, meski secara kalkulasi agak sulit. Gatot dan Prabowo punya segmentasi yang sama sehingga tidak bersifat komplementer. Keduanya sama-sama menyasar Islam modernis.

Keduanya juga sama-sama berlatar belakang militer, dan sama-sama berasal dari Jawa Tengah. Prabowo dari Banyumas, sementara Gatot Nurmantyo dari Tegal. "Jadi ada banyak kesamaan, meskipun lagi-alih dalam politik nggak ada kemustahilan. Artinya bisa saja terjadi," ujar Burhan.

Alih-alih, Burhan memprediksi naiknya elektabilitas Gatot justru dapat membahayakan Prabowo Subianto. Karakteristik pemilih Gatot lebih dekat ke karakteristik pemilih Prabowo, ketimbang pemilih Jokowi. Pendukung Gatot banyak berasal dari Sumatera dan Jawa Barat, wilayah-wilayah yang secara elektoral itu di 2014 mendukung Prabowo.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Roy Suryo menanggapi elektabilitas Jokowi sebesar 58,9 persen dalam simulasi head to head melawan Prabowo Subianto. Menurut dia, perolehan suara Jokowi sudah cukup tinggi. Jokowi tidak perlu kampanye sambil bekerja, karena rakyat Indonesia sudah semakin cerdas. Dengan bekerja pun, secara tidak langsung Jokowi sudah berkampanye.