Rabu , 18 October 2017, 23:44 WIB

Cak Imin Berpeluang Bangun Poros Santri

Rep: Amri Amrullah/ Red: Citra Listya Rini
Republika/Mahmud Muhyidin
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin).
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemilu presiden masih berlangsung dua tahun ke depan, tetapi manuver politik antar partai dan tokoh politik telah mengemuka. Salah satunya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai pemegang suara 9.04 pada Pemilu 2014 ini berpotensi mengusung kadernya untuk bertarung dalam Pemilu 2019, setidaknya untuk kans wakil presiden.

Direktur The Centre for Media Gender and Democracy Dedi Kurnia Syah meyakini, konsistensi PKB dalam menjaga pemilih santri berpeluang untuk memunculkan satu nama kontestan wapres.

"Kita bicara data, PKB sejauh ini miliki tren suara yang baik, pemilih loyalnya cukup signifikan dalam mendukung kadernya di berbagai even electoral. Sebagai partai terbuka yang kuat nuansa Islam moderatnya, potensi cawapres sangat relevan lahir dari partai Nahdlatul Ulama ini," kata Dedi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (18/10).

Menurut analisa doktor diplomasi politik ini, tren politik nasional mulai bergeser ke kelompok sektarianistik, isu agama menjadi persoalan serius dan terbukti mempengaruhi konstelasi politik dalam tahun-tahun terakhir ini. Paling fenomenal pada Pilgub DKI Jakarta lalu.

Untuk itu, ia optimistis partai-partai berafiliasi pada agama memiliki peluang yang cukup baik.Ia mengungkapkan PKB, setidaknya memimpin perolehan suara parpol-parpol berbendera agama seperti PAN dan PPP.

Dedi mengatakan, keunggulan Muhaimin selain Ketum PKB juga menjadi tokoh politik paling bersinar di kalangan NU saat ini. Cak Imin, menurut dia, mendapatkan sokongan kuat dari kalangan santri yang loyal. Ini kabar baik dan memberi gambaran Pemilu 2019.

"Cak Imin miliki peluang besar untuk membangun poros politik santri, atau menjadi penentu kontestasi koalisi Capres-Cawapres 2019 bersama kalangan nasionalis," ujar Dedi.

Dedi menambahkan PKB hanya memerlukan tambahan suara di luar santri, dan kondisi tersebut dapat dicapai dengan memilih mitra politik strategis. Hematnya, mereka hanya memerlukan mitra yang strategis, tentu bukan dari kalangan santri, agar tidak ada dua matahari. Jokowi menurut saya relevan mempertimbangkan Cak imin untuk mewakilinya. Keduanya saling melengkapi," kata Dedi.

Penulis buku CSR Politik ini turut menyinggung aturan main pemilu dengan ambang batas 20 persen tidak menjadi penghalang berarti bagi PKB. Menurut dia, ambang batas peruntukannya untuk Pilpres 2019, terlebih dengan ukuran perolehan suara pemilu 2014, PKB berpeluang untuk menjadi penentu koalisi dengan sumbangan suara dominan.
Persoalan lain adalah terkait presiden threshold.

Namun, menurut Dedi, itu bukan halangan berarti. Sebab, perolehan suara pemilu lalu cukup menjadi modal PKB untuk mempengaruhi secara signifikan konstalasi Pilpres 2019. "PKB hanya perlu melakukan kerja keras dengan strategi yang cantik. Peluang terbuka lebar bagi PKB meningkatkan perolehan suara pada tahun-tahun mendatang. Ini adalah tahun politik santri," ujarnya.