Ahad , 22 Oktober 2017, 14:40 WIB

Elektabilitas di Bawah 50 Persen Jadi Alarm Bagi Jokowi

Rep: Singgih Wiryono/ Red: Bayu Hermawan
Republika/Raisan Al Farisi
 Pengamat Politik Siti Zuhro.
Pengamat Politik Siti Zuhro.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengatakan, elektabilitas Joko Widodo di bawah 50 persen menjadi alarm bahaya Jokowi dalam kontestasi politik Pilpres 2019 mendatang. Sebab, menurutnya sebagai pejawat, Jokowi seharusnya memiliki peluang lebih besar.

"Ditambah belum ada bermunculan calon lainnya," ujarnya dalam sebuah acara diskusi Laporan Survei Nasional Polmark Indonesia di Restoran Batik Kuring, Jakarta, Ahad (22/10).

Siti melanjutkan, memang sesuatu yang wajar di setiap rilis survei, Jokowi menjadi nama teratas. Akan tetapi, lanjut dia, elektabilitas yang menurun setelah masa pemilihan menjadikan indikasi banyaknya masyarakat pemilih yang menginginkan pemimpin baru.

Berdasarkan hasil survei yang dikeluarka PolMark Indonesia, Elektabilitas Jokowi menurun hingga 13,7 Persen. Ketika Pilpres 2014 lalu, Jokowi mengantongi elektabilitas sebersar 54,9 Persen, sedangkan dalam rilis survei PolMark Indonesia, Jokowi hanya mengantongi eletabilitas sebesar 41,2 Persen.

CEO PolMark Indonesia, Eep Saifulloh Fatah mengatakan pesaing terdekat Jokowi masih tempati Prabowo Subianto dengan tingkat elektabilitas 21,1 persen. Eep menjelaskan, dari tingkat elektabilitas Jokowi, baru hanya 26,6 persen yang mengaku mantap untuk memilih kembali Jokowi di tahun 2019 mendatang. Sedangkan Prabowo mengantongi kemantapan pemilih di angka 11,6 persen suara.

Survei Polmar dilakukan pada 9-20 September 2017 tersebut melibatkan 2250 rsponden yang dilakukan pada WNI yang berdomisili di Indonesia. Metode survei menggunakan Mulitistage random sampling dengan margin of error +- 2,1 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.