Ahad , 22 October 2017, 16:53 WIB

Panglima TNI Ditolak Masuk AS, Kemenlu Ambil Tindakan Ini

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Elba Damhuri
Antara/Wahyu Putro A
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (kiri) bersama Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (18/10).
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (kiri) bersama Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (18/10).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Juru bicara Kementrian Luar Negeri, Armantha Nasir, mengatakan pihaknya sudah menghubungi Kemenlu Amerika Serikat (AS) terkait penolakan terhadap Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo untuk memasuki wilayah AS.

"KBRI Washington DC telah mengirim nota diplomatik kepada Kemenlu AS untuk meminta klarifikasi terkait kejadian kemarin malam," kata Armantha kepada wartawan, Ahad (22/10).

Kemudian, sambung Tata --sapaan akrab Armantha-- pada pagi tadi, Kemenlu RI juga sudah memgirimkan nota diplomatik ke Kedubes AS di Jakarta untuk meminta keterangan atau penjelasan terkait kejadian kemarin.

"Menlu RI sudah bicara dengan Dubes AS di Jakarta hari ini meminta agar segera dapat memberi Klarifikasi," ucapnya.

Baca Juga: Panglima TNI Dikabarkan Ditolak Masuk AS

Tata menambahkan, lantaran Dubes AS yang sedang tidak di Jakarta, maka Wakil Dubes AS juga telah dipanggil untuk ke Kemlu besok guna memberikan keterangan.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo diisukan ditolak masuk Amerika Serikat (AS). Gatot Nurmantyo dikabarkan seharusnya terbang ke AS menggunakan maskapai penerbangan Emirates EK 0357 pada 21 Oktober.

Gatot diisukan ditolak masuk AS beberapa saat sebelum terbang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng. Pemberitahuan penolakan itu disebut-sebut disampaikan maskapai Emirates atas permintaan otoritas keamanan dalam negeri AS.

Panglima TNI terbang ke AS guna memenuhi undangan Panglima Angkatan Bersenjata Amerika Serikat Jenderal Joseph F Durford Jr yang juga merupakan sahabatnya. Panglima juga disebut-sebut telah melaporkan hal ini ke Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menko Polhukam Wiranto, dan Joseph Duford Jr.