Senin , 23 October 2017, 11:15 WIB

DPR: Penolakan Panglima TNI Cederai Hubungan Indonesia-AS

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Bayu Hermawan
.
Meutya Viada Hafidz
Meutya Viada Hafidz

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Komisi I DPR Meutya Hafidz menilai, insiden ditolaknya Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo masuk ke Amerika Serikat dapat mencederai hubungan Indonesia-AS. Hal ini karena suka atau tidak, penolakan tersebut paling tidak berpengaruh terhadap hubungan kedua negara yang sudah terjalin selama ini.

"Saya menilai insiden ditolaknya Panglima, dapat mencederai Hubungan Indonesia-AS," ujar Meutya kepada wartawan pada Senin (23/10).

Karena, insiden tersebut Kementerian Luar Negeri Indoensia telah mengeluarkan nota diplomatik atau suatu langkah yang ditempuh sebuah negara jika dirasa ada masalah yang perlu dipertanyakan secara tertulis. Karenanya menurut Meutya, AS harus bisa menjelaskan atau menjawab nota Indonesia, terkait penolakan terhadap Panglima TNI.

"AS harus bisa menjelaskan atau menjawab nota Indonesia, kenapa Panglima TNI yang diundang secara resmi oleh Pejabat Militer AS, sempat diberikan red notice di bandara ketika akan berangkat," katanya.

Namun demikian, Kedutaan Besar AS baru menyampaikan permintaan maaf tanpa menjelaskan duduk persoalan penolakan tersebut.

"Saya membaca rilis dari kedubes AS isinya baru berupa permintaan maaf, belum menjelaskan kenapa insiden tersebut dapat terjadi. Saya rasa ini yang menjadi pertanyaan besar masyarakat Indonesia yang perlu dijawab oleh AS. Red Notice sesuatu yang serius, ia tidak ujug-ujug keluar tanpa alasan," ujar politikus Partai Golkar tersebut.

Ia juga menilai, penjelasan akan lebih elok dilakukan oleh pihak Kementerian Luar Negeri AS, karena nota diplomatik dilayangkan KBRI Washington kepada Kemlu AS.

"Jadi meski apresiasi permintaan maaf dari Dubes AS,Kemlu AS perlu merespon secara langsung. Ini supaya tidak ada asumsi-asumsi, ataupun praduga-praduga terhadap AS juga. Mudah-mudahan ini hanya blunder di internal mereka, namun itu perlu dijelaskan," katanya.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dikabarkan ditolak masuk ke Amerika Serikat oleh Pemerintah AS. Penolakan itu diterima Gatot saat sebelum terbang dari bandara Soekarno Hatta. Pemberitahuan penolakan disampaikan melalui maskapai Emirates atas permintaan otoritas keamanan dalam negeri AS.

Padahal Gatot sudah menjelaskan bahwa kunjungannya untuk memenuhi undangan dari Panglima Angkatan Bersenjata AS. Undangan tersebut dalam rangka menghadiri konferensi pertahanan bertema countering violent extremism yang diadakan di Washington DC pada 23-24 Oktober 2017. Atas insiden tersebut, Gatot pun segera melapor kepada Presiden RI, Joko Widodo, Menlu Retno, dan Menkopolhukam Wiranto.