Rabu , 01 November 2017, 06:21 WIB

Menhan Ungkap Alasan Pentingnya Kesadaran Bela Negara

Rep: Muhyiddin/ Red: Bilal Ramadhan
Republika/ Tahta Aidilla
Ryamizard Ryacudu
Ryamizard Ryacudu

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menghadiri acara penutupan Halaqah Nasional Ulama Pesantren dan Cendekiawan Gerakan Dakwah Aswaja Bela Negara yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al Hikam, Beji, Depok, Selasa (31/10). Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa semangat membela negara sangat penting untuk ditularkan pada masyarakat di era globalisasi baru.

"Saya ingin mengakat satu pemikiran, yaitu mengapa bangsa Indonesia memerlukan semangat dan kesadaran membela negara dalam menghadapi derasnya fenomena persaingan mempertahankan eksistensi suatu bangsa dalam era globalisasi yang baru," ujarnya saat sambutan.

Menurut dia, semangat membela negara penting dibangkitkan kembali agar bisa menghadapi zaman globalisasi yang sarat dengan persaingan ekonomi antar bangsa, serta sarat dengan pelemahan ideologi bangsa Indonesia.

"Di mana bentuk persaingan yang dinamis ini dampak berdampak kepada sistem politik, hukum, mental, dan budaya, serta penghayatan terhadap ideologi negara suatu bangsa," ucapnya.

Karena itu, Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh kalah dalam menghadapi tantangan di era globalisasi baru tersebut. "Dalam kapasitas saya selaku Menteri Pertahanan Republik Indonesia, saya pribadi saya tidak ingin Indonesia kalah dalam persaingan modernisasi dan global tersebut karena dapat mengancam eksistensi dan keutuhan negara kita," katanya.

Menurut dia, globalisasi sendiri merupakan persaingan bebas antar bangsa, di mana yang kuat bisa menang dan cenderung menjadi penjajah, sedangkan yang lemah akan kalah dan menjadi pecundang yang terjajah. Karena itu, ia memandang sangat perlu untuk selalu mengingatkan akan pentingnya penanaman nilai-nilai kesadaran bernegara.

"Ini sebagai modalitas kekuatan dan pengikat jati diri bangsa agar kita bersatu dan berhasil dalam menghadapi setiap tantangan dinamika globalisasi," jelasnya.