Ahad , 19 November 2017, 13:08 WIB

Perjalanan Hidup Setya Novanto, dari Pekerja Keras Hingga Jadi Politikus 'Licin'

Red: Karta Raharja Ucu
REPUBLIKA/Rakhmawaty La'lang
Ketua DPR Setya Novanto.
Ketua DPR Setya Novanto.

REPUBLIKA.CO.ID, REPUBLIKA.CO.ID -- Setya Novanto sosok politikus andal Partai Golkar yang piawai di Indonesia. Kepiawaian Setnov berpolitik ini pula yang kemudian membawanya terpilih sebagai Ketua DPR RI. Ia juga menggantikan Aburizal Bakrie, menjadi Ketua Umum Partai Golkar sejak 17 Mei 2016 menyingkirkan rivalnya Ade Komarudin.

Walaupun penuh kontroversi, namun pria yang sering dipanggil Setnov ini ternyata mampu menjaga kestabilan politik di internal Golkar. Hingga namanya terseret dalam korupsi skandal proyek KTP elektronik yang disidik KPK. Bagaimanapun itu, Setnov terbukti selalu lolos dari incaran KPK. Sehingga ia sering digelar politikus 'licin.'

Sayangnya sedikit orang tahu bahwa perjalanan Setnov merintis perjalanan hidupnya tidaklah mudah. Semasa muda, Setnov mengaku dirinya bukanlah anak yang beruntung sehingga perlu kerja keras untuk sekolah dan merasakan bangku kuliah. Dalam salah satu kesempatan di STIE Pariaman, Sumatra Barat, 25 Maret 2017, Setnov sempat bercerita bagaimana perjalanannya berjuang sangat ulet hidup dan mendapatkan pendidikan yang layak.

"Waktu zaman saya muda sangat sulit sekali, saya pernah menjadi supir, saya menjadi pembantu rumah tangga. Itu tidak lain supaya saya bisa mengumpulkan uang. Kalau jam 4 pagi, saya bangun pagi saya harus jual beli beras di Surabaya, pasar Wonokromo. Setelah itu hasilnya untuk kuliah. Kalau pagi jam 6 saya ngantar anak-anak pemilik kos, agar saya gak bayar kos. Jadi setelah itu saya biasakan nyuci sambil ngepel jadi pembantu, pokoknya bagaimana saya bisa bayar kuliah dan sekolah dengan baik," ungkap Setnov saat itu.

Selama di Surabaya, Setnov mulai dari berjualan beras dan madu modal Rp 82.500 dan memulai dengan kulakan tiga kuintal beras hingga bisa berjualan beras sampai dua truk yang langsung diambil dari pusatnya di Lamongan. Saat itu ia juga punya kios di Pasar Keputran, Surabaya namun usaha tersebut tak bertahan lama dan predikat juragan beras ditinggalkannya karena mitra usahanya mulai tidak jujur.


Berita Terkait