Selasa , 13 June 2017, 16:33 WIB

Muhammadiyah: Ada Empat Kesamaan TNI dan Muhammadiyah

Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Gita Amanda
dok. Anri
Panglima Besar Jenderal Sudirman ditandu selama perang gerilya.
Panglima Besar Jenderal Sudirman ditandu selama perang gerilya.

EPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menghadiri sidang senat terbuka Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Selasa (13/6). Dalam kesempatan tersebut hadir Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo yang menyampaikan orasi ilmiah dihadapan ribuan warga Sukabumi.

''Kehadiran panglima mempererat kembali hubungan antara Muhammadiyah dan TNI,'' ujar Haedar Nashir dalam sambutannya di acara yang digelar di Gedung Anton Sudjarwo, Kompleks Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Polri Kota Sukabumi. Ia mengatakan Panglima TNI beberapa kali menghadiri kegiatan yang diselenggarakan Muhammadiyah.

Diterangkan Haedar, ia seringkali mengatakan pada tubuh TNI ada darah Muhammadiyah dan pada Muhammadiyah ada darah perjuangan TNI. Hal ini ujar dia bukan berarti yang lain tidak.

Haedar menuturkan, ada pertemuan empat kesamaan antara Muhamadiyah dan TNI. Kesamaan ini terang dia bukan dicari-cari karena berdasarkan fakta sejarah.

Pertama ujar Haedar, panglima besar TNI yakni Jenderal Sudirman merupakan kader tulen Muhammadiyah. Sosok tersebut adalah penggerak Hizbut Wathan yakni pembela Tanah Air, guru dan menjadi anggota inti Muhammadiyah.

Dalam perjalanannya kata Haedar, ada relasi yang erat antara Muhammadiyah bersama TNI dan Polri sebagai bagian dari sejarah Jenderal Sudirman. Kedua lanjut dia, Muhammadiyah dan TNI lahir dari masyarakat. Mengutip ucapan dari Jenderal Sudirman terang dia yakni TNI bukan golongan tersendiri, TNI bukan kasta sendiri, TNI lahir dari rakyat.

Muhammadiyah pun lanjut Haedar, lahir dari rakyat dan rahim umat yang saat itu terjajah tertindas yang harus memperjuangkan nasibnya untuk menjadi bangsa yang merdeka dan unggul. Perjuangan itu tutur dia dilandasi dengan semangat menjadi umat yang terbaik.

Ketiga sambung Haedar, pergulatan Muhammadiyah dengan seluruh anak bangsa dan khususnya TNI untuk menegakan dan mendirikan serta memperjuangkan Indonesia. ''Kalau ada yang meragukan kebhinekaan Muhammadiyah dan umat Islam, ada yang meragukan NKRI umat Islam dan meragukan kepancasilaan umat Islam, mungkin mereka perlu belajar lagi sejarah,'' ujar dia.

Tapi ujar Haedar, tidak perlu meletakkan mereka sebagai musuh. Melainkan lanjut dia memposisikan mereka sebagai orang yang belum paham dan perlu dipahamkan bahwa umat Islam dan Indonesia merupakan satu kesatuan

Bedanya kata Haedar, umat Islam termasuk Muhammadiyah jika ada hal yang bengkok dalam mengurus negara maka Muhammadiyah dan umat Islam dengan jujur melakukan kritik yang bermartabat dan berargumentasi. Hal ini terang dia sebagai bagian cinta terhadap negara bukan sikap oposisi.

Keempat terang Haedar yakni pengkhidmatan tokoh Muhammadiyah pada bangsa dan negara ibarat cinta orangtua yang tidak bertepi seluas bahkan melampaui samudera. Tokoh tersebut seperti pendiri Muhammadiyah Ahmad Dahlan. Selain itu dr Sutomo yang merupakan pendiri Budi Utomo merupakan termasuk pendiri rumah sakit Muhammadiyah di Surabaya 1924.

KH Mas Mansur yang merupakan empat serangkai bersama dengan Soekarno, Moh Hatta dan Ki Hajar Dewantara yang mewakili ke Jepang untuk proses kemerdekaan dan kembali ke Surabaya yang melawan penjajah dan meninggal di penjara. Tokoh lainnya Ki Bagus Hadikusomo ketua PP Muhammmadiyah.

Sosok ini terang dia penentu kompromi Indonesia dan keislaman. Umat Islam rela mencoret tujuh kata demi Indonesia yang harus utuh satu hari setelah kemerdekaan. Dengan perjuangan dialog intensif memindah sila kelima menjadi sila pertama yakni ketuhanan yang maha esa.

Selain itu sambung dia, Ir Juanda dia juga merupakan kader asli Muhamamdiyah penggagas dan perumus yang menentukan deklarasi Juanda 1957. Deklarasi ini menyatukan laut sebagai bagian integral Indonesia dan 1982 diakui PBB sebagai bagian Indonesia.