Selasa , 13 Juni 2017, 18:41 WIB

Aktualisasi Manhaj Islam Berkemajuan

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Fernan Rahadi
yuliningsih/republika
Abdul Mu'ti
Abdul Mu'ti

REPUBLIKA.CO.ID, Gerakan Islam dewasa ini dinilai memiliki kecenderungan ke arah yang reaktif, sporadis, ekstrem, konservatif, simbolis, politis, dan demonstratis. Menyikapi hal ini, Muhammadiyah mengajukan gagasan aktualisasi gerakan Islam yang berdasarkan pada manhaj Islam berkemajuan.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti mengungkapkan bahwa manhaj Islam berkemajuan memiliki lima dasar atau Fondasi. Pertama, yaitu berakidah Islam yang murni sebagai semangat kemajuan. Dengan tauhid yang murni, pria yang akrab disapa Mu'ti mengatakan, akan lahir jiwa yang merdeka, optimisme, hingga egalitarianisme kemanusiaan.

"Egalitarianisme kemanusiaan yang mendorong manusia meningkatkan kualitas diri dan meraih prestasi. From zero to hero," kata Mu'ti saat dihubungi oleh Republika, Selasa (13/6).

Fondasi kedua ialah berlandaskan pada Alquran dan sunah dengan diiringi oleh pemahaman yang luas, mendalam, menyeluruh, dan multidisiplin. Hal ini perlu diikuti dengan fondasi ketiga, yaitu beramal soleh yang solutif dan fungsional.

Islam yang berkemajuan, lanjut Abdul, juga perlu bersikap terbuka di tengah pluralitas. Hal ini bisa dilakukan dengan cara terus belajar, memperbaiki diri, berani menegaskan prinsip dan identitas, siap bersaing namun suka bekerja sama dan yang terpenting mengedepankan dialog dalam menyelesaikan masalah. "(Kelima) Berorientasi jauh ke masa depan," tambah Mu'ti

Mu'ti mengungkapkan, adanya kecenderungan gerakan Islam yang reaktif hingga demonstratif saat ini dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Beberapa di antaranya ialah adanya ketidakadilan, partai politik Islam yang kurang aspiratif, hingga lemahnya wawasan.

Mu'ti mencontohkan, kurangnya wawasan atau pemahaman politik dapat membuat ummat Islam mudah terpengaruh oleh elite internal umat yang memiliki agenda politik pribadi. Miskinnya wawasan, pengalaman serta literasi politik juga dapat membuat ummat Islam dimanfatkan sebagai kendaraan politik pihak tertentu. "Manhaj Islam yang berkemajuan meniscayakan adanya individu dan komunitas yang senantiasa belajar dan meningkatkan kualitas diri," ungkapnya.

Aktualisasi gerakan Islam berdasarkan manhaj Islam berkemajuan dapat dilakukan melalui beberapa cara. Salah satunya ialah dengan melakukan gerakan Islam yang berbasis pada ilmu. Di samping itu, gerakan dengan manhaj Islam berkemajuan juga dituntut untuk mampu berjejaring dan bersifat partisipatif dan inovatif.

Gerakan dengan manhaj Islam berkemajuan juga sepatutnya bersifat partisipatif dengan amsuk ke dalam sistem secara profesional dan elegan. Tak lupa, gerakan ini juga harus bersifat konstitusional dengan cara mematuhi hukum, legal advocacy, judicial review dan lainnya.

Mu'ti mengatakan, Islam berkemajuan membutuhkan lingkungan yang kondusif dalam bidang politik maupun sosial. Karena itu, diperlukan juga keadilan hukum agar tidak ada kelompok tertentu yang mengancam kelompok lain yang berbeda pendapat atau memiliki gagasan baru.

"Perlu atmosfer  keterbukaan sosial dan politik serta tanggung jawab sosial agar masyarakat saling menghormati, santun, dan tulus membangun kerja sama," katanya.

Berdasarkan pemikiran ini, Mu'ti berharap, agar umat mampu bersikap kritis dan arif dalam menyikapi berbagai isu. Di sisi lain, Abdul juga mendorong agar ummat membangun sikap toleran dalam menyikapi perbedaan baik dalam bidang politik maupun keagaamaan. "Politik adalah sarana, bukan tujuan. Perbedaan agama adalah pilihan keyakinan," katanya.

Terkait itu, Mu'ti mengatakan, pemaksaan dan tindak kekerasan pada kelompok lain tidak dibenarkan. Dalam kehidupan kebangsaan setiap warga negara memiliki tanggung jawab untuk membangun harmoni dan memajukan masyarakat. Kemajuan ini dpat diraih jika berbagai elemen bangsa dapat bekerja sama antara satu dan yang lain, meski memiliki afiliasi politik maupun memeluk agama yang berbeda.

"Kemajuan tidak dapat diraih apabila masyarakat hidup dalam kejumudan, kekolotan, berpikiran sempit, mudah tersinggung, dan antiperubahan," tuturnya.