Selasa , 08 August 2017, 14:46 WIB

UM Surabaya Edukasi Astronomi Terkait Gerhana Bulan Parsial

Red: Yusuf Assidiq
Antara
Gerhana bulan parsial.
Gerhana bulan parsial.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA  -- Universitas Muhammadiyah Surabaya, Jawa Timur, memberikan edukasi tentang ilmu Falaq (Astronomi Islam) kepada mahasiswa Fakultas Agama Islam saat peristiwa puncak gerhana bulan sebagian atau parsial yang terjadi Selasa (8/8) dini hari pukul 01.20 WIB.  

Ketua Prodi Hukum Islam UM Surabaya Gandhung Fajar Panjalu mengatakan fakultasnya menjadikan fenomena gerhana bulan parsial sebagai momentum untuk memberikan pelajaran seputar ilmu Falaq kepada mahasiswa. Dalam kesempatan itu, mahasiswa melakukan simulasi dan melakukan shalat Gerhana saat puncak peristiwa tersebut.
 
"Penguatan ilmu Falaq menjadi ciri mahasiswa Fakultas Agama Islam UM Surabaya. Dengan mempelajari dan memperdalam ilmu Falaq, diharapkan dapat meningkatkan keimanan mahasiswa kepada Allah melalui bentuk penciptaan dan keteraturan alam semesta," kata dosen yang akrab disapa Fajar ini.

Sebelum melakukan observasi secara langsung, mahasiswa terlebih dahulu diberi kuliah pengantar agar saat terjadi peristiwa tersebut mahasiswa bisa praktik dengan benar.

"Gerhana bulan sebagian di Indonesia, bisa diamati asalkan kondisi langit cerah. Karena di Surabaya lagi cerah, kami melakukan observasi dengan mata telanjang meskipun tetap menyediakan peralatan bantuan seperti teleskop" ujarnya.

Dijelaskan, peristiwa gerhana bulan parsial adalah kondisi di mana sebagian permukaan bulan menjadi gelap karena tertutup permukaan bumi. Sedangkan gerhana bulan total adalah peristiwa di mana seluruh permukaan bulan tertutup oleh permukaan bumi.

Peristiwa seperti ini bisa terjadi selama 2017 hanya terjadi satu peristiwa yakni yang terjadi pada 7-8 Agustus. Nantinya, lanjut Fajar, baru bisa melihat gerhana bulan lainnya saat perisitiwa gerhana bulan total yang akan terjadi pada 31 Januari 2018.

Selain itu, dengan memahami peristiwa itu dengan benar dapat menepis terjadinya mitos gerhana bulan akibat dimakan mahluk raksasa. "Bayangan bumi di bulan berbentuk lingkaran. Ini sekaligus mematahkan teori bumi datar yang mengemuka di kalangan pengguna media sosial," katanya

Sumber : Antara