Jumat , 03 November 2017, 18:46 WIB

Muhammadiyah Aid Perkuat Tugas Kemanusiaan untuk Rohingya

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yusuf Assidiq
muhammadiyah.or.id
Lazismu
Lazismu

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Muhammadiyah Aid melalui Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), dan Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU), terus bersinergi untuk memperkuat kerja kemanusiaan bagi pengungsi Rohingya, di Bangladesh.

Sejauh ini, penggalangan dana yang telah dilakukan oleh Lazismu telah mengumpulkan donasi sebesar Rp 20 miliar. Jumlah ini masih akan terus bertambah mengingat dana dari masyarakat di Indonesia untuk bantuan krisis kemanusiaan Rohingya masih terus mengalir.

Di sisi lain, program Indonesian Humanitarian Alliance telah menyepakati untuk mengatasi berbagai persoalan krisis kemanusiaan yang dihadapi para pengungsi Rohingya yang hingga saat ini masih terus mengalir menuju Cox’s Bazar, Bangladesh. Hal ini terungkap dalam pembukaan Rakornas Lazismu 2017, yang digelar di New Metro Hotel, Semarang, Jawa Tengah, mulai Jumat (3/11) hingga Ahad (5/11).  

Direktur Utama Lazismu, Andar Nubuwono, mengatakan tim Muhammadiyah Aid telah bekerja sejak satu bulan lalu di Cox’s Bazar, yang saat ini sudah ada sebanyak 800 ribu pengungsi Rohingya. Bahkan sampai saat ini masih ada pengungsi yang menyebarang dari Myanmar ke Bangladesh melalui Teknaf.

Hal ini diamini oleh Manajer Program Muhammadiyah Aid dan Indonesian Humanitarian Alliance, dr Corona Rintawan. Menurutnya, dampak yang terjadi konflik di Rakhine adalah terjadinya eksodus besar-besaran warga Rohingya dari Provinsi Rakhine ke Bangladesh. Sejak 25 Agustus hingga sekarang, total sudah ada 844 ribu jiwa.

“Jadi sudah 100 persen yang berpindah ke Bangladesh dan ini menjadi masalah kemanusiaan yang berat bagi Bangladesh. Akhirnya dari Indonesian Humanitarian Alliance memutuskan untuk menambah program ke Bangladesh,” katanya.

Saat ini Muhammadiyah dipercaya untuk menjadi koordinator program di Bangladesh. Termasuk dalam hal penenganan kesehatan para pengungsi. Saat ini tiap pekan ada 174 ribu pasien yang konsultasi ke seluruh kamp medis.

Dari jumlah ini 37 persennya balita. Jadi sangat memprihatinkan. Dari 100 persen angka kematian yang dilaporkan 40 persennya balita. Dari total angka kematian, penyumbang terbesar diagnosa kematiannya adalah infeksi saluran pernafasan atas (ISPA).

“Ini menunjukkan kondisi dasar di pengungsian dan kebutuhan dasarnya yang banyak tak terpenuhi,” jelasnya.

Berita Terkait