Sabtu , 04 November 2017, 13:32 WIB

Nasyiatul Aisyiah: Musuh Kita Hari Ini adalah Kemiskinan

Rep: Muhyiddin/ Red: Gita Amanda
Dok. Istimewa
Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah, Diyah Puspitarini sambutan dalam acara pembukaan Tanwir I Pimpinan Pusat (PP) Nasyiatul Aisyiyah di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada Jumat (3/10).
Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah, Diyah Puspitarini sambutan dalam acara pembukaan Tanwir I Pimpinan Pusat (PP) Nasyiatul Aisyiyah di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada Jumat (3/10).

REPUBLIKA.CO.ID, BANJARMASIN -- Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (NA) membuka secara resmi Tanwir I Nasyiatul Aisyiyah di Gedung Sultan Suriansyah, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jumat (3/11) lalu. Kegiatan Tanwir ini mengangkat tema Perempuan Muda Berkemajuan untuk Keadilan Sosial.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Diyah Puspitarini, mengatakan tema keadilan sosial diangkat karena perempuan dan anak masih jauh dari standar nasional. Untuk itu menurut dia, masih banyak anak-anak yang terlantar dan perempuan-perempuan yang menjadi korban kekerasan.

"Musuh kita dulu adalah Belanda dan penjajah. Siapakah musuh kita hari ini? Musuh kita hari ini adalah kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan," ujarnya saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan Tanwir I Nasyiatul Aisyiyah di Gedung Sultan Suriansyah, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jumat (3/11).

Diyah meyakini dengan semangat kader Nasyiatul Aisyiah ke depannya bisa menegakkan keadilan bagi kaum-kaum yang tertindas tersebut, asalkan mau bergotong royong. "Pasti bisa jika kita mau bergotong royong, berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Umum PP Aisyiah Siti Noordjanah Djohantini mengatakan bahwa Nasyiatul Aisyiyah saat ini telah menunjukkan perkembangan yang sangat dinamis dalam skala nasional. "Tema tersebut menjadi indikasi bahwa perempuan muda sudah dapat menjaga kondisistesinya sebagai generasi Muhammadiyah," katanya.

Menurut dia, perempuan muda berkemajuan menyadari peran dan fungsinya dalam menjalankan amar maruf nahi munkar. Siti mengatakan, empat pilar kebangsaan menjadi falsafah pondasi yang kuat untuk para perempuan berbuat sesuatu bagi bangsanya, umat dan kemanusiaan.

"Perempuan muda berkemajuan harus proyektif melihat apa yang terjadi di tahun-tahun mendatang. Perempuan harus berpikir maju supaya dalam menangani persoalan akan menempuh cara yang maju juga," jelasnya.