Senin , 06 November 2017, 10:36 WIB

Muhammadiyah Galakkan Gerakan Tutup Bumi

Rep: Eric Iskandarsjah Z/ Red: Gita Amanda
Republika/Rakhmawaty La'lang/ca
Salah satu kawasan yang dilanda kekeringan (ilustrasi).
Salah satu kawasan yang dilanda kekeringan (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama di Pulau Timor, memiliki persoalan kekeringan yang menyulitkan masyarakat. Intensitas curah hujan yang relatif kecil serta kondisi alam yang tak memadai membuat kekeringan di Pulau Timor pun tak dapat disangkal.

Untuk membantu masyarakat setempat, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah pun melakukan sebuah program strategis di provinsi yang dikenal sebagai pengghasil kayu cendana tersebut. Program itu tidak dilakukan dengan memberi air bersih dalam truk tangki, melainkan melalui sebuah program jangka menengah terkait optimalisasi lahan di Pulau Timor, yang dilakukan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah.

Program itu bernama Gerakan Tutup Bumi. Ketua MPM PP Muhammadiyah, M. Nurul Yamin mengatakan, program tersebut dilakukan di Desa Tliu, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi NTT.

"Gerakan Tutup Bumi adalah kegiatan penghijauan atau reboisasi," ujar Yamin kepada Republika.co.id, di Kupang, NTT pada Senin (6/11). Gerakan itu dipilih menjadi strategi jangka menengah dalam menyelesaikan persoalan kekeringan, mengingat salah satu penyebab minimnya air tanah adalah karena tak banyak vegetasi di kawasan itu.

Program reboisasi tersebut dilakukan dengan menanam beberapa jenis tanaman seperti pohon trembesi, pohon beringin, mahoni dan pohon mangga. "Tanaman itu dipilih karena dinilai optimal dalam menyediakan air tanah yang tidak terlalu dalam," kata dia.

Saat ini, sumur air tanah di kawasan yang terletak sekitar 200 kilo meter (km) ke arah timur dari Kota Kupang itu harus melalui proses pengeboran hingga kedalaman 200 meter untuk mendapatkan air. Saat kemarau, sumur dalam itupun tak berair. Masyarakat di daerah tersebut yang mayoritas merupakan masyarakat asli Tmor pun tak jarang harus mencari air bersih di sumber mata air yang jaraknya sekitar tujuh kilometer, tanpa kendaraan apapun.

Tak hanya itu, lanjutnya, agar program pemberdayaan masyarakat di NTT lebih masif, MPM PP Muhammadiyah tak hanya mengembangkan program pemberdayaan yang meliputi gerakan tutup bumi dengan menanam pohon, namun juga dengan pengeboran sumur, pembuatan penampungan air hujan, pertanian lahan kering serta memberi pendidikan melalui pendirian sekolah dasar (SD).