Senin , 06 November 2017, 19:59 WIB

Gerakan Tutup Bumi Muhammadiyah Atasi Kekeringan di NTT

Rep: Eric Iskandarsjah Z/ Red: Agus Yulianto
Republika/Wihdan Hidayat
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir

REPUBLIKA.CO.ID, Selama ini, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama di Pulau Timor, memiliki persoalan kekeringan yang menyulitkan masyarakat. Intensitas curah hujan yang relatif kecil serta kondisi alam yang tak memadai, membuat kekeringan di Pulau Timor semakin parah.

Melihat kendalan itu dan berkeinginan untuk membantu masyarakat setempat, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah pun melakukan sebuah program strategis di provinsi yang dikenal sebagai penggasil kayu cendana tersebut. Program itu tidak dilakukan dengan memberi air bersih dalam truk tangki, melainkan melalui sebuah program jangka menengah terkait optimalisasi lahan di Pulau Timor, yang dilakukan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah.

Program itu bernama Gerakan Tutup Bumi. Ketua MPM PP Muhammadiyah M Nurul Yamin mengatakan, program tersebut dilakukan di Desa Tliu, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi NTT.

Gerakan Tutup Bumi adalah kegiatan penghijauan atau reboisasi, ujar Yamin kepada Republika, di Kupang, NTT pada Senin (6/11). Gerakan itu dipilih menjadi strategi jangka menengah dalam menyelesaikan persoalan kekeringan, mengingat salah satu penyebab minimnya air tanah adalah karena tak banyak vegetasi di kawasan itu.

"Program reboisasi tersebut dilakukan dengan menanam beberapa jenis tanaman seperti pohon trembesi, pohon beringin, mahoni dan pohon mangga. Tanaman itu dipilih karena dinilai optimal dalam menyediakan air tanah yang tidak terlalu dalam," kata dia.

Saat ini, sumur air tanah di kawasan yang terletak sekitar 200 km ke arah timur dari Kota Kupang itu, harus melalui proses pengeboran hinggal kedalaman 200 meter. Namun, saat kemarau, sumur dalam itupun tak berair. Masyarakat di daerah itu yang mayoritas merupakan masyarakat asli Timor pun tak jarang harus mencari air bersih di sumber mata air yang jaraknya sekitar 7 km, tanpa kendaraan apapun.

Tak hanya itu, agar program pemberdayaan masyarakat di NTT lebih masif, MPM PP Muhammadiyah tak hanya mengembangkan program pemberdayaan yang meliputi gerakan tutup bumi dengan menanam pohon. Namun, juga dengan pengeboran sumur, pembuatan penampungan air hujan, pertanian lahan kering serta memberi pendidikan melalui pendirian sekolah dasar (SD).

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, program ini merupakan bukti nyata Muhammadiyah dalam memberikan peran dari aspek sosial kemasyarakatan. Haedar juga menekankan, meski umat Muslim di NTT merupakan minoritas, namun ia ingin keminoritasan itu tidak menghalangi untuk memberikan sumbangsih bagi bangsa Indonesia.

"Ini merupakan spirit kebersamaan," ujarnya kepada Republika.co.id, usai menghadiri seremonial Gerakan Tutup Bumi dan Peresmian SD Muhmmadiyah Tliu, di Desa Tliu, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi NTT pada Senin (6/11) sore.

Jangan sampai, lanjut dia, perbedaan agama, suku dan kemajemukan menghalangi kita untuk membangun bangsa. Ia menyadari, NTT terutama di Timor Tengah Selatan ini memiliki persoalan kekeringan yang sangat krusial.

Berlatar belakang dari persoalan itu, ia ingin Muhammadiyah dapat berbagi kepada masyarakat NTT melalui kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengolahan sumber daya alam, agar dapat berperan dalam membangun masa depan NTT.

"Penanaman pohon yang dilakukan dalam Gerakan Tutup Bumi ini, memiliki fungsi konservasi. Hal itu sekaligus dapat bermanfaat untuk penyediaan sumber daya air bagi masyarakat," kata Haedar.

Berdasar pantauan Republika.co.id, saat ini, sumber mata air terdekat dan termudah untuk dijangkau adalah sisa air di sungai yang sudah nyaris kering. Sungai itu berjarak sekitar lima kilometer. Karena hampir tak ada air, sungai ini sekilas lebih mirip jalan berbatu kerikil.

Asumsi itu, tertolong oleh masih adanya sisa air yang telah dikurung oleh warga setrmpat dengan membentuk kolam berukuran sekitar 5 x 10 meter dengan. Kolam itu sengaja dibentuk untuk memudahkan masyarakat dalam mengimpun air ke dalam jerigen, untuk kemudian diangkat dengan tangan kanan, kiri dan dipikul di kepala, melintasi jalan berliku dan berbatu.