Kamis , 09 November 2017, 20:38 WIB

MDMC Siapkan Pengurangan Risiko Bencana dan Kesiapsiagaan

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Fernan Rahadi
Muhammadiyah
Aksi Muhammadiyah Disas­ter Management Center (MDMC).
Aksi Muhammadiyah Disas­ter Management Center (MDMC).

REPUBLIKA.CO.ID, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) merupakan lem­baga yang bertugas ­mengoordinasikan mobilisasi sumber daya Tanggap Darurat Bencana, Mitigasi, dan Kesiapsiagaan Bencana, serta rehabilitasi pascabencana. Lembaga ini merupakan amanah Muktamar Muhammadiyah ke-46 tahun 2010 di Yogyakarta.

Sebagai Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) PP Muhammadiyah, memang dituntut dapat menampilkan komitmen dalam mengoptimalkan man­faat program-programnya. Tu­juan­nya, tidak lain agar dampak nya­tanya dapat dirasakan seluruh lini di Indonesia, baik dalam bantuan, pe­nang­gulangan, rehabilitasi, sampai kesiapsiagaan.

Walau belum merata, kehadiran MDMC sudah mulai memunculkan orang-orang yang memahami penting­nya masyarakat memiliki kesiapsiaga­an menghadapi bencana. MDMC turut mengikuti perubahan paradigma Ba­dan Nasional Penanggulangan Benca­na (BNPB), jika penanggulangan harus pula mempersiapkan pengurangan risiko bencana.

Ketua MDMC, Budi Setiawan, me­ngatakan demi memenuhi itu di­ben­tuklah Pengurangan Risiko Ben­cana dan Kesiapsiagaan (PRBK), de­ngan misi utama memberikan kesa­daran tentang pentingnya kesiapan masyarakat meng­hadapi bencana. Namun, penguatan ini memang baru bisa menyentuh ma­sya­rakat jika ter­jadi bencana.

Semisal, saat terjadi banjir di Garut tahun lalu, MDMC turut menggerakkan warga untuk turut membantu pro­ses evakuasi, sehingga mulai timbul kesadaran jika mereka terkena banjir bisa teratasi. Saat terjadi longsor di Sumedang, MDMC malah diminta me­lakukan pendampingan kepada masyarakat yang mengungsi.

"Lewat pintu itu, masyarakat di­edu­kasi betapa pentingnya mengurangi risiko bencana, pentingnya masya­ra­kat memiliki kesadaran dalam ke­siapsiagaan, dan ternyata ini bisa kita lakukan dengan baik," kata Budi, kepada Republika, Selasa (7/11).

Dari sisi lain, program-program MDMC seperti masyarakat tangguh bencana dan pendampingan kepada masyarakat untuk aktif membantu rumah sakit senantiasa dilakukan. Pengalaman saat terjadinya gempa di Yogyakarta, banyak rumah sakit yang bobol karena mendadak didatangi begitu banyak pasien.

Sedangkan, masyarakatnya hanya menonton tanpa melakukan bantuan secara aktif lantaran tidak memiliki kesadaran serta kemampuan medis dasar yang memadai. Dari situ, LPB PP Muhammadiyah  menyusunnya dalam program masyarakat tangguh bencana, dan ma­sya­rakat disiapkan untuk dapat mem­bantu rumah sakit jika terjadi bencana.

Hal itu sudah berjalan di beberapa tempat, seperti saat erupsi Merapi pada 2010, masyarakat sekitaran kaki Merapi disiapkan membaca potensi bencana. Sosialisasi itu disampaikan baik secara langsung kepada masyarakat, maupun lewat jejaring-jejaring keorganisasian Muhammadiyah.

Aspek ini yang dirasa menjadi sa­lah satu nilai lebih Muham­madi­yah, mengingat jejaringnya begitu merata sampai seluruh Nusantara, sehingga apa yang dilakukan MDMC bisa sam­pai ke bawah. Terbukti saat banjir Bi­ma, masyarakat bisa diubah menjadi masyarakat yang siap meng­hadapi bencana.

Saat ini, proses pelatihan terus ber­langsung, Desember nanti rencananya akan ada gladi untuk dilanjutkan ke gladi lapangan pada Januari. Langkah ini dilakukan MDMC di banyak tem­pat, termasuk Palangkaraya, sehingga pemahaman bencana sebagai peristi­wa alam yang merugikan bisa dibalik.

Satu bulan terakhir, MDMC turut mendampingi pengungsi yang ada di sekitar Gunung Agung, Bali, dengan standar Preparing to Excel in Emer­gen­cy Response (PEER), sehingga dilakukan perbaikan-perbaikan. Ter­ak­hir, usai diumumkan penurunan sta­­­tus, mereka yang ada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) berkumpul di lokasi MDMC.

"Sekaligus kita edukasi masyarakat menghadapi bencana, sebab kalau mengerti potensi bisa meminimalisir kepanikan, kalau masyarakatnya kuat, fenomena alam seperti apapun kita bisa hadapi," ujar Budi. 

Lebih lanjut ia mengungkapkan, pola pikir memang masih menjadi masalah utama dalam upaya-upaya menguatkan kesiapsiagaan masyara­kat menghadapi bencana. Karenanya, penting menyadarkan kalau banyak kerugian yang bisa dihindarkan, baik harta maupun jiwa, yang kadang penyadarannya memang harus masuk ketika bencana itu terjadi.

Banjir di Purworejo jadi contoh­nya, bagaimana masyarakat tidak siap menghadapi bencana yang terjadi, sehingga begitu banyak surat-surat penting yang hilang. Setelah menda­pat­kan edukasi, masyarakat perlahan mulai menyadari, jika sudah siap banyak surat-surat yang bisa diaman­kan melalui tindakan preventif.

Permasalahan pola pikir memang tidak terkooptasi desa atau kota, me­ng­ingat tidak sedikit masyarakat per­ko­taan yang mengalami persoalan se­rupa. Banjir di Bukit Duri, Jakarta, mi­salnya, yang walau sudah rutin ter­jadi ternyata masyarakat baru me­ng­ungsi saat air sudah mencapai setidaknya mata kaki.

Padahal, jika mereka mengungsi lebih awal ketika Bendung Katulampa siaga satu, begitu banyak surat-surat ber­harga yang dapat diselamatkan. Belum lagi, mereka bisa membawa bekal lebih banyak, bisa tidur dengan peralatan sendiri, sehingga tidak dihu­jani berbagai kesulitan ketika mengungsi.