Senin , 13 November 2017, 17:46 WIB

Konferensi Kewarganegaraan di UAD Merespons Dinamika Bangsa

Red: Yusuf Assidiq
Dokumen
Konferensi Nasional Kewarganegaraan III.
Konferensi Nasional Kewarganegaraan III.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta bersama Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3Kn) DIY, menggelar Konferensi Nasional Kewarganegaraan III, Sabtu (11/11). Kegiatan yang diselenggarakan di Islamic Center, Kampus 4 UAD, Ring Road Selatan, Tamanan, Bantul ini, sebagai respons terhadap dinamika bangsa yang terjadi.

“Agar isu-isu keindonesiaan dan keumatan yang dewasa ini menyeruak di permukaan dapat terjawab melalui konferensi ini,” kata ketua panitia, Dikdik Baehaqi, dalam siaran pers.

Ia menjelaskan, konferensi bertemakan 'Peneguhan Jiwa Profetik dan Patriotik, Merespons Dinamika Keindonesiaan dan Kemanusiaan'. Hadir sebagai keynote speacker yaitu Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak.

Sedangkan pembicara pada konferensi ini antara lain Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang, Prof Masrukhi, Tim Pengembang Nasional Pendidikan Karakter, dosen Pendidikan Umum Universitas Pendidikan Indonesia, Dr Kama Abdul Hakam, dan dosen PKn-UNY, Halili.

Isu-isu yang dibahas dalam konferensi ini dan menjadi sub tema pembahasan di forum pemakalah di antaranya  transformasi nilai profetik PKn, pembelajaran PKn tingkat dasar, menengah dan pendidikan tinggi, inovasi dan model pembelajaran, serta isu keindonesiaan.

Sebanyak 200 peserta hadir, baik sebagai pemakalah dan peserta umum. Peserta berasal dari berbagai kalangan, yaitu guru, pemerhati PKn, mahasiswa, dan dosen. Pemakalah berasal dari berbagai universitas, yakni UNY, UM Bengkulu, UM Makassar, Universitas Buana Karawang, UPI, dan Unnes.

Dalam paparannya, Dahnil menyampaikan tentang perjuangan melalui nalar ilmiah. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh tokoh-tokoh bangsa seperti Moh Hatta.

“Tokoh-tokoh ini melakukan perjuangan melalui perang tulisan di jurnal, melawan ilmuwan Belanda. Contohnya perang terkait penyebutan nama Indonesia, juga munculnya Pancasila sebagai produk dialog. Instrumen dialog adalah nalar yang sehat, tanpa nalar ilmiah ini maka dialog pasti rusak,” jelasnya.